Musim Kemarau Bawa Berkah, Harga Tembakau Rajangan di Tulungagung Tembus Rp 110 Ribu Per Kg

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 12:00 WIB
Petani 
tembakau di 
Desa Moyoketen, 
Kecamatan 
Boyolangu, sedang menjemur 
tanaman bahan 
baku rokok. Saat ini harga di 
pasaran sedang bagus.(RAHIIQ/RATU)
Petani tembakau di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, sedang menjemur tanaman bahan baku rokok. Saat ini harga di pasaran sedang bagus.(RAHIIQ/RATU)

 

RADAR TULUNGAGUNG – Kemarau justru menjadi momentum menguntungkan bagi petani tembakau di Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.

Harga tembakau rajangan kering yang semula berada di kisaran Rp 60 ribu-Rp 70 ribu per kilogram saat panen bisa melonjak hingga Rp 100 ribu-Rp 110 ribu per kilogram setelah disimpan beberapa bulan.

Petani tembakau Desa Bono, Kusno mengatakan, harga menjadi salah satu alasan tembakau tetap diminati saat kemarau.

Setelah panen padi sekitar Juni, lahan langsung dimanfaatkan untuk menanam tembakau.

“Saya biasanya setelah panen padi langsung menanam tembakau. Padi mulai ditanam sekitar Januari dan panennya sekitar Juni. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan tembakau,” ujarnya.

Baca Juga: Kemarau Bikin Debit Embung Sidem Tulungagung Menurun, Air Masih 3 Meter dan Jadi Favorit Pemancing

Untuk tembakau basah, harga saat ini berada di kisaran Rp 650 ribu-Rp 700 ribu per kuintal atau sekitar Rp 6.500-Rp 7.000 per kilogram.

Setelah dirajang dan dikeringkan, harga saat panen berada di kisaran Rp 60 ribu-Rp 70 ribu per kilogram.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung Suyanto membenarkan bahwa tembakau menjadi salah satu komoditas yang menarik bagi petani saat kemarau.

Selain lebih sesuai dengan kondisi lahan yang minim air, nilai jualnya juga cukup menjanjikan.

Selain jagung dan hortikultura, sebagian petani memilih menanam tembakau. Kalau lahannya cocok untuk tembakau, biasanya petani memilih tembakau karena hasilnya lebih menjanjikan,” katanya.

Baca Juga: Pompanisasi Dongkrak Indeks Pertanaman Sawah Tulungagung hingga IP 300 Saat Kemarau

Menurut dia, kenaikan harga setelah beberapa bulan menjadi daya tarik tersendiri.

Tembakau rajangan kering yang awalnya Rp 60 ribu-Rp 70 ribu per kilogram berpotensi mencapai Rp 100 ribu-Rp 110 ribu per kilogram. 

Selisih harga tersebut membuat sebagian petani memilih tidak langsung melepas seluruh hasil panen ketika harga sedang rendah,” ungkapnya.

Namun, strategi menyimpan tembakau juga memiliki risiko.

Petani harus menjaga kualitas dan kondisi tembakau selama penyimpanan agar harga tidak justru turun.

Karena itu, keputusan menjual atau menyimpan hasil panen tetap bergantung pada kualitas tembakau dan perkembangan harga pasar. (bac/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
kemarau dispertan tembakau panen petani