Radar Tulungagung - Kerusakan Bendung Pacar tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum akhirnya ambrol, bagian lantai terjun bendung telah mengalami penggerusan yang membuat kondisi konstruksi semakin menurun.
Tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Andri Setiawan mengatakan, kondisi Bendung Pacar sebenarnya sudah mengalami kerusakan sejak lama. Seiring waktu, kerusakan tersebut semakin terlihat hingga bagian konstruksi mengalami penurunan.
“Sebenarnya bendung ini sudah mengalami kerusakan sejak lama. Namun, semakin lama kondisinya semakin terlihat, termasuk sudah ada penurunan dan kerusakan pada bagian bendung,” ujarnya.
Kerusakan cukup parah terdapat pada bagian lantai terjun. Bagian tersebut mengalami penggerusan yang kemudian menjadi salah satu kondisi yang perlu diperiksa lebih lanjut oleh tim teknis BBWS Brantas.
“Kerusakan yang cukup parah ada di bagian lantai terjun. Lantai terjunnya sudah mengalami penggerusan,” jelasnya.
Sebelum konstruksi ambrol, warga di sekitar lokasi sempat mendengar suara retakan. Suara tersebut terdengar berulang kali hingga akhirnya bagian bendung mengalami kerusakan.
“Sekitar pukul 13.30 WIB terdengar suara retakan. Suaranya seperti retak berulang kali, kemudian setelah itu bendung ambrol,” tuturnya.
Ambrolnya bendung tersebut berpotensi memengaruhi suplai air ke wilayah hilir. Bendung Pacar selama ini menjadi salah satu sumber suplai bagi sekitar sembilan desa. Jika hanya mengandalkan suplai dari bendung tersebut, sekitar lima desa diperkirakan akan sedikit terdampak.
Dampak yang paling mungkin dirasakan adalah penurunan muka air untuk kebutuhan pertanian. Namun, kondisi tersebut masih dapat diminimalkan karena tanaman pada masa tanam ketiga mayoritas berupa palawija.
Untuk mengetahui tingkat kerusakan secara menyeluruh, BBWS Brantas tidak langsung melakukan penanganan tanpa kajian. Tim teknis akan melakukan investigasi terhadap kondisi bendung untuk menentukan langkah yang paling tepat.
Selain itu, BBWS akan berkoordinasi dengan UPT Pengairan dan IP3A atau kelompok petani pemakai air. Pertemuan darurat juga disiapkan untuk membahas dampak kerusakan terhadap distribusi air di wilayah hilir.
“Kami tidak ingin mengambil langkah darurat tanpa kajian karena justru bisa membahayakan. Jadi, penanganan akan dilakukan setelah ada kajian teknis dan secepatnya diupayakan,” pungkasnya.
Sementara itu, warga sempat berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk pladu atau mencari ikan setelah bendung mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat BBWS melakukan pengamanan dengan memasang garis pembatas dan meminta warga tidak mendekati area konstruksi yang ambrol.
Editor : Rahiiq Al BachriSumber : Radar Tulungagung