Sembahyang Ulam Bana di TITD Tjoe Tik Kiong Tulungagung, 3.000 Paket Sembako Disiapkan

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 16:14 WIB
Sekitar 2.800 paket telah diambil atau dibagikan saat tradisi sembahyang Ulam Bana.(RAHIIQ AL BACHRI/RATU)
Sekitar 2.800 paket telah diambil atau dibagikan saat tradisi sembahyang Ulam Bana.(RAHIIQ AL BACHRI/RATU)

 

TULUNGAGUNG - Tradisi sembahyang Ulam Bana kembali digelar di TITD Tjoe Tik Kiong pada Senin (31/8). Kegiatan tahunan tersebut menjadi bagian dari penghormatan kepada arwah dalam tradisi masyarakat Tionghoa, termasuk mereka yang diyakini sudah tidak memiliki sanak keluarga untuk mengurusnya.

Pelaksanaan sembahyang Ulam Bana juga diikuti dengan pembagian paket sembako kepada umat dan relawan yang mengikuti rangkaian kegiatan. Panitia menyiapkan sekitar 3.000 paket sembako untuk kegiatan tersebut.

Ketua panitia kegiatan Wibisono mengatakan, hingga pelaksanaan kegiatan sekitar 2.800 paket sembako telah diambil atau dibagikan. Paket tersebut disiapkan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang berlangsung di kelenteng.

“Ulam Bana ini merupakan sembahyangan arwah. Dalam kepercayaan kami, sekitar bulan Imlek tanggal 12 bulan 7, pintu neraka dipercaya dibuka selama satu bulan agar arwah-arwah dapat kembali dan berkumpul dengan sanak keluarganya,” jelasnya.

Menurut Wibisono, tradisi tersebut memiliki rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan penghormatan kepada arwah. Tidak semua sembahyang ditujukan kepada arwah yang masih memiliki keluarga.

Baca Juga: Sambut Tahun Kuda Api 2026, Sembahyang Malam Imlek 2557 di Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung Penuh Doa dan Harapan

Wibisono menjelaskan, terdapat sembahyang khusus yang ditujukan kepada arwah yang dianggap sudah tidak memiliki sanak famili maupun keturunan. Sembahyang Ulam Bana yang digelar tersebut menjadi bagian dari penghormatan kepada arwah-arwah tersebut.

“Kalau tadi malam kami mengadakan sembahyangan arwah, hari ini sembahyang Ulam Bana ditujukan bagi arwah-arwah yang tidak terurus, misalnya sudah tidak memiliki sanak famili atau keturunan,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, umat menyiapkan sesajen sebagai bentuk penghormatan secara simbolis kepada arwah-arwah yang menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Sesajen tersebut menjadi salah satu bagian dalam rangkaian sembahyang. Prosesi dilakukan sebagai bentuk penghormatan sesuai dengan kepercayaan yang dijalankan oleh umat.

Bagi umat di TITD Tjoe Tik Kiong, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Pelaksanaan secara berkala menjadi salah satu bentuk upaya menjaga keberlangsungan tradisi yang telah dijalankan.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Hadiri Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 di Bali

Tradisi sembahyang Ulam Bana tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki makna penghormatan kepada arwah yang diyakini tidak lagi memiliki keluarga untuk mengurusnya.

Dalam kepercayaan yang disampaikan Wibisono, periode tersebut menjadi waktu ketika arwah dipercaya dapat kembali dan berkumpul dengan sanak keluarganya. Karena itu, rangkaian sembahyang menjadi bagian dari penghormatan kepada arwah.

Sementara untuk arwah yang sudah tidak memiliki sanak famili atau keturunan, sembahyang Ulam Bana menjadi bentuk perhatian secara simbolis.

“Secara simbolis, kami memberikan sesajen agar arwah-arwah tersebut tidak mengganggu manusia,” pungkasnya.

Pelaksanaan kegiatan tahun ini juga diwarnai dengan pembagian ribuan paket sembako. Dari sekitar 3.000 paket yang disiapkan panitia, sekitar 2.800 paket telah diambil atau dibagikan hingga kegiatan berlangsung.

Kegiatan tersebut mempertemukan unsur keagamaan dan kebersamaan umat dalam satu rangkaian. Tradisi sembahyang tetap menjadi inti kegiatan, sementara pembagian sembako menjadi bagian lain yang menyertai pelaksanaan.

Dengan kembali digelarnya sembahyang Ulam Bana, TITD Tjoe Tik Kiong mempertahankan tradisi tahunan yang menjadi bagian dari kehidupan keagamaan umat. Penghormatan kepada arwah, termasuk arwah yang dianggap tidak terurus, tetap dilakukan melalui rangkaian sembahyang dan sesajen secara simbolis.(bac)

Editor : Vidya Sajar Fitri
sembahyang ulam bana kelenteng tulungagung titd tjoe tik kiong tradisi tionghoa Budaya Tulungagung