Radar Tulungagung - Ratusan Sekolah Dasar Negeri di Tulungagung hanya mampu mendapat siswa baru kurang dari 10 siswa.
Dimana dengan kurangnya perolehan siswa, ratusan sekolah tersebut akan dilakukan penggabungan atau marger.
Kendati demikian, langkah ini masih dilakukan pengkajian untuk memperhitungkan dampak yang terjadi ketika dilakukan penggabungan.
Baca Juga: Sederet Fakta Penahanan Tersangka Korupsi PNPM Tulungagung, Pernah Kabur Jadi TKW di Singapura
Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung, Rahardi P Bintara mengatan, berdasarkan data, setidaknya ada hampir 200 sekolah SDN di Tulungagung hanya mendapat siswa baru kurang dari 10 siswa.
Tak hanya itu, bahkan masih terdapat beberapa sekolah yang tidak mendapat siswa baru sama sekali dalam pelaksanaan penerimaan siswa baru.
Diketahui mayoritas sekolah yang kurang mampu memenuhi pagu berada di wilayah pinggiran Tulungagung.
Baca Juga: Koruptor PNPM Tulungagung Resmi Ditahan Setelah Telan Kerugian Rp 8 Miliar
Usulan penggabungan atau marger sekolah tersebut tengah dalam kajian menyeluruh.
Dimana tujuan pengkajian atas usulan tersebut guna menilai dampak dari kebijakan penggabungan sekolah.
“Kajian ini dilakukan karena pelayanan pendidikan harus menjangkau seluruh wilayah di Kabupaten Tulungagung,” jelasnya.
Baca Juga: 5 Jamaah Calon Haji Cadangan asal Tulungagung Mengundurkan Diri
Lanjut dia, hasil kajian penggabungan sekolah ini akan rampung pada akhir tahun 2025 ini.
Pihaknya pun akan segera melaporkan ke Bupati Tulungagung atas hasil dari kajian penggabungan sekolah tersebut.
Diketahui selain sekolah yang kekurangan siswa, usulan penggabungan sekolah ini juga menyasar sekolah yang tidak menerima murid baru pada tahun ajaran 2024/2025.
“Ini juga terkait efesiensi anggaran pendidikan. Sekolah yang tidak memiliki siswa tetap menyerap biaya operasional,” tutupnya.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah Telaga Ngembel, Permata Tersembunyi di Desa Ngentrong Tulungagung
Sementara itu, Ketua DPRD Tulungagung, Marsono mengaku, pentingnya langkah marger untuk sekolah-sekolah negeri yang terus mengalami penurunan siswa.
Menurutnya tidak ideal apabila sekolah terus berjalan tetapi jumlah siswa hanya sedikit.
“Marger harus dilakukan demi efesiensi. Tidak ideal jika sekolah tetap beroperasi dengan jumlah siswa sangat sedikit,” pungkasnya.(ziz)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz