TULUNGAGUNG – Meski mengalami peningkatan sejak 2021, kondisi ekonomi ekonomi ditinjau dari indikator produk domestik regional bruto (PDRB) pada 2024 cenderung mengalami sedikit penurunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Tulungagung menyebut kondisi ini diakibatkan oleh faktor force majeure di tahun lalu.
Pertumbuhan PDRD sejak 2015 lalu cenderung mengalami peningkatan. Yaitu, pada 2015 di angka 4,99 persen, 2026 di angka 5,02 persen, 2027 di angka 5,08 persen, 2018 di angka 5,21 persen, 2019 di angka 5,32 persen.
Baca Juga: Produksi Keripik Rumahan di Desa Sukoharjo Tulungagung yang Menembus Sekat Wilayah, Penjualan Tak Lagi di Pasar Lokal Bahkan Lintas Negara
Lalu, sempat anjlok di angka -3,09 persen pada 2020 akibat pandemi, meningkat jadi 3,53 persen pada 2021, 5,22 persen pada 2022, sedikit megalami penurunan menjadi 4,91 persen pada 2023, hingga berada di angka 4,86 persen pada 2024.
“Jadi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tulungagung di tahun 2024 itu 4,86 (persen). Sedikit melambat dibanding tahun sebelumnya yang 4,92,” ujar Kepala BPS Tulungagung, Dyah Sari Prihantari.
Meski begitu, dia mengklaim bahwa penurunan PDRB pada 2024 dibanding 2023 lalu tidak bisa dibilang defisit.
Sebab, ada berbagai indikator yang menunjukkan tren peningkatan ekonomi di sejumlah subsektor.
“Tapi di sini bukan berarti turun. Artinya tetap tumbuh, cuma akselerasi percepatnya tidak secepat tahun sebelumnya,” akunya.
Ditinjau dari 17 lapangan usaha, ada dua sektor pada 2024 yang mengalami penurunan laju pertumbuhan PDRB dibanding 2023 lalu.
Pertama, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan hingga menyentuh angka -1,95 dibanding 2023 lalu.
Baca Juga: Review Film Berjudul Jatuh Cinta Seperti di Film - Film, Film Lokal Hitam Putih yang Jenius dan Berani Tampil Beda di Masa Kini
Kedua, sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang yang mengalami penurunan hingga menyentuh angka -0,55 dibanding 2023 lalu.
Hal ini memang patut jadi perhatian. Sebab, 15 poin lapangan usaha lain dalam indikator PDRB Tulungagung pada 2024 terpantau naik dari tahun sebelumnya.
Dyah menyebut, turunnya laju pertumbuhan PDRD di sektor pertanian dan pengadaan air disebabkan oleh faktor force majeure yang dalam hal ini adalah cuara.
“Ternyata karena faktor cuaca. Itu kan sangat mempengaruhi pola tanam. Nah produksi padi kita itu minus, jadi pertumbuhan tanaman pangan kita itu memang minus sampai 12 (persen),” kata perempuan berjilbab ini.
Sedangkan faktor penurunan laju pertumbuhan di sektor pengadaan air disebabkan oleh turunnya jumlah pelanggan layanan pengadaan air, baik daerah maupun swasta.
Adanya anomali cuaca menyebabkan produksi air dari perusahaan pengolaahan air jadi tak menentu.
Adapun laju pertumbuhan tertinggi pada 2024 lalu ada di sektor transportasi dan pergudangan. Yaitu, mencapai 11,73 persen.
Alasannya, sektor ini tak terdampak faktor cuaca secara langsung. Sehingga kegiatan perekonomian di sektor ini bisa terus berjalan normal di tengah anomali cuaca.
Selain menilik tingkat laju pertumbuhan PDRD, lanjut Dyah, masyarakat dan pemerintah juga perlu melihat persentase struktur PDRB.
Dari 17 lapangan usaha, sektor industri pengolahan, sektor pertanian, dan sektor perdagangan jadi penyumbang PDRB terbesar.
Rinciannya, industri pengolahan menyumbang PDBR sebesar 24,16 persen, perdagangan besar menyumbang PDRB sebesar 20,84 persen, dan pertanian menyumbang sebesar 17,44 persen.
Maka, tiga sektor yang disebutkan di atas menyumbang setidaknya 62,44 persen dari total 4,86 persen PDRB Tulungagung selama periode 2024.
“Berarti, struktur ekonomi di Kabupaten Tulungagung paling besar adalah disumbang PDRB-nya oleh industri pengolahan. Struktur ekonomi di potensi ekonomi di Tulungagung dominan industri,” jelasnya. (dit)
Editor : Aditya Yuda Setya Putra