TULUNGAGUNG – Sejak Januari lalu, kondisi ekonomi di Tulungagung sempat mengalami deflasi alias penurunan harga barang dan jasa selama tiga bulan.
Kondisi ini jadi perhatian, mengingat Pemkab Tulungagung masih perlu memastikan stabilitas inflasi selama satu semester ke depan.
Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Kabupaten Tulungagung, Arif Effendi menengungkapkan, sesuai data rekapitulasi per Januari lalu, nilai inflasi di Tulungagung terbilang fluktuatif.
“Ada inflasi pas tinggi-tingginya. Ada juga pas inflasi rendah-rendahnya, dalam hal ini deflasi,” ucapnya.
Meski mengalami naik-turun, Arif mengaku, nilai inflasi selama periode Januari hingga Mei lalu masih dalam batas aman. Yaitu, di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
“Rata-rata masih aman. Tapi untuk secara momen dari mulai Januari kemarin kita di dua bulan awal itu Januari-Februari mengalami deflasi,” ungkapnya.
Nilai deflasi pada Februari lalu berada di angka minus 0,72. Itu nilai inflasi terendah dalam periode Januari hingga Mei tahun ini.
Lalu, nilai inflasi perlahan naik secara bertahap pada periode Maret dan April sebelum kembali mengalami deflasi di sepanjang Mei lalu.
“Tapi di Maret dan April itu naik signifikan. Di bulan Maret itu 1,79 dan di April 1,1. Itu sudah lumayan untuk menutup deflasi yang ditimbulkan di Januari dan Februari,” sebutnya.
“Kemudian di Mei kemarin terjadi deflasi lagi di angka minus 0,26. Memang tidak terlalu dalam. Kita tidak paling rendah dibandingkan satu Jawa Timur. Kita hitungannya malah masih tinggi. Karena di kabupaten-kabupaten sekitar itu deflasinya lebih dalam lagi daripada itu,” lanjut Arif.
Disinggung soal alasan terjadinya deflasi pada Januari, Februari, dan Mei lalu, dia mengatakan ada berbagai faktor yang jadi penyebab.
Mulai dari perubahan pola hidup masyarakat di periode pergantian tahun dari 2024 ke 2025, adanya penurunan tingkat belanja masyarakat selama periode Februari, hingga dimulainya masa panen raya di triwulan pertama tahun ini.
“Ditambah lagi surplus di beberapa komoditas pertanian. Seperti bawang merah waktu itu masih banyaknya, pas panen-panennya. Termasuk beras juga kita pas panen raya di bulan-bulan Februari. Maka banyak deflasi. Hampir secara nasional deflasi untuk bahan-bahan pokok,” akunya.
Meski begitu, dia optimis nilai inflasi di sepanjang semester II tahun ini masih dalam koridor aman.
“Secara year to date-nya di Mei kemarin kita kan dapat angkanya di 1,53. Jadi kalau sampai dengan Desember besok 3,5,” terangnya.
Itu artinya, masih ada jarak aman sekitar 1,7. Maka, berdasarkan tren di sepanjang lima bulan awal di tahun ini, nilai inflasi di kisaran 1,5 masih bisa dikatakan dalam batas aman.
“Jadikan kalau 1, 5 satu semester ini ditambah 1,5 semester yang akan yang akan datang kan cuma 3 (nilai inflasi),” kata Arif lagi.
Patut diingat, batas aman nilai inflasi berada di kisaran 1,5 hingga 3,5. Sehingga, jika tren inflasi di semester kedua tahun ini relatif sama dengan tren inflasi di semester pertama, maka dapat dipastikan nilai inflasi di sepanjang tahun ini terbilang terkendali.
Itu penting untuk memastikan baik sektor produksi maupun konsumsi di wilayah Tulungagung berjalan seimbang.
“Aman dalam arti bagus,” pungkasnya. (dit)
Editor : Didin Cahya Firmansyah