TULUNGAGUNG - Di beberapa desa lereng pegunungan di Tulungagung, ada satu kebiasaan sederhana namun penuh makna.
Biasanya warga Tulungagung naik ke atap rumah atau duduk santai di teras lantai dua hanya untuk menikmati matahari terbenam.
Tak ada acara khusus, tak perlu kopi atau cemilan, cukup memandangi langit yang berubah warna sambil menunggu matahari “tenggelam” di balik siluet gunung-gunung di Tulungagung.
Senja yang dicari, tenang yang dirasakan bagi sebagian orang, ini sudah seperti ritual kecil di penghujung hari.
Tentu rasanya adem banget lihat langit oranye pelan-pelan jadi biru tua.
Tiap sore naik ke atap rumahnya sambil membawa bangku plastik kecil. Tentu hati ikut tenang.
Spot favorit menghadapi senja di desa-desa seperti Nglurup, Geger, dan Campurdarat di Tulungagung dikenal punya rumah-rumah dengan posisi strategis menghadap barat.
Banyak yang membangun lantai dua atau sekadar tangga ke atap sebagai tempat duduk sore.
Dari sana, matahari terlihat perlahan turun di balik barisan gunung, memantulkan cahaya ke sawah atau atap rumah tetangga.
Motret senja pakai HP biasa? Bisa banget! Tak perlu kamera mahal untuk mengabadikan momen ini.
Cukup HP biasa dengan mode HDR atau malam. Pastikan lensa bersih dan stabilkan tangan saat memotret.
Gunakan objek pendukung seperti siluet pohon atau genteng rumah agar komposisinya lebih hidup.
Lebih dari sekadar pemandangan bagi warga, buruan senja bukan hanya tentang matahari terbenam.
Itu momen diam sejenak dari hiruk pikuk hidup, bahkan kadang jadi waktu refleksi. Ada yang ngobrol ringan, ada yang diam sambil melamun.
Jika kamu sedang berkunjung ke desa-desa di Tulungagung, cobalah cari spot tinggi di rumah warga saat sore menjelang.
Siapa tahu, kamu pun ikut jatuh cinta pada kebiasaan kecil yang menghadirkan damai ini. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah