TULUNGAGUNG - Di banyak sekolah dasar di Tulungagung, ada satu pemandangan yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.
Antrean anak-anak di depan gerobak mie pentol yang berada di sejumlah sekolah di Tulungagung.
Harganya masih seribu rupiah, rasanya tetap bikin nagih, dan penjualnya? Banyak yang sudah berdiri di situ sejak puluhan tahun lalu di sejumlah sekolah di Tulungagung.
Meski zaman dulu, mie pentol tetap jadi favorit. Setiap jam istirahat, anak-anak keluar kelas dan langsung menyerbu gerobak mie pentol.
Dengan uang seribu rupiah, mereka sudah bisa menikmati semangkuk kecil mie yang disiram kuah gurih dan diberi beberapa butir pentol.
Beberapa penjual mie pentol bahkan sudah berdiri di depan sekolah yang sama selama belasan hingga puluhan tahun.
Mereka hafal wajah-wajah langganan, bahkan sering melayani anak dari murid-murid lama mereka.
Yang bikin mie pentol ini istimewa adalah kuahnya hangat, gurih, kadang sedikit pedas, dan penuh cita rasa khas yang susah dijelaskan.
Katanya sih ada racikan bawang putih goreng dan kaldu sapi yang dimasak dengan cara tradisional.
Setiap penjual punya resep rahasia masing-masing.Beberapa anak bahkan rela antre dua kali hanya untuk minta tambahan kuah.
Bagi banyak anak, mie pentol bukan cuma makanan. Ini bagian dari cerita sekolah, dari nostalgia masa kecil, dari pertemanan yang dibangun sambil duduk di trotoar menikmati mie hangat bareng-bareng.
Dan selama masih ada gerobak sederhana yang setia menanti di depan pagar sekolah, mie pentol seribu akan tetap hidup sebagai jajanan abadi anak-anak Tulungagung. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah