TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, musim angin bukan cuma soal cuaca ini saatnya langit jadi arena pertarungan layangan!
Tradisi main layangan di Tulungagung masih kuat, terutama di kampung-kampung.
Begitu angin bertiup kencang, anak-anak di kampung-kampung Tulungagung langsung keluar dengan benang gulungan dan layangan plastik buatan sendiri.
Bentuknya bisa macam-macam ada yang model blekutuk, aduan, hingga yang dihias warna-warni hasil karya tangan sendiri.
Jangan salah, urusan adu layangan itu bukan main.
Teknik "tarikan" untuk memutus benang lawan sudah jadi keahlian khusus.
Bahkan ada yang rela pakai benang gelasan tajam demi menang di langit sore.
Suara sorak sorai makin ramai saat satu layangan jatuh kena tebas. Anak-anak langsung lari berebut, seperti menang hadiah.
Kadang, ini juga jadi ajang adu gengsi antar kampung siapa yang layangannya paling tinggi, paling lama di udara, atau paling banyak ‘menjatuhkan’ layangan lawan, dialah jagonya.
Maghrib jadi batas waktu tak tertulis.
Begitu adzan berkumandang, layangan diturunkan, dan langit kembali kosong.
Tapi cerita sore itu bakal jadi bahan obrolan sampai esok hari, saat angin kembali mengajak mereka bertanding di langit kampung. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah