TULUNGAGUNG – Di tengah derasnya arus modernisasi dan peralihan masyarakat ke peralatan dapur berbahan logam atau plastik, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, tetap mempertahankan eksistensinya sebagai sentra produksi cobek batu.
Sejak puluhan tahun lalu, warga di kawasan perbukitan di Tulungagung itu telah mengolah batu alam menjadi berbagai peralatan dapur seperti cobek, ulekan, hingga lumpang (alat penumbuk).
Hasil produksinya tidak hanya dipasarkan di Tulungagung, tetapi juga ke wilayah sekitar seperti Blitar, Kediri, bahkan hingga Jawa Tengah.
Proses Produksi Masih Dilakukan Secara Tradisional
Proses pembuatan cobek di Desa Sanggrahan masih dilakukan secara tradisional. Para pengrajin menggunakan alat-alat sederhana seperti palu, pahat, dan batu asah.
Batu sebagai bahan baku utama biasanya didatangkan dari kawasan pegunungan di wilayah Campurdarat atau Pagerwojo.
Setelah tiba di tempat produksi, batu dipotong sesuai ukuran yang diinginkan, lalu dibentuk menjadi cobek atau ulekan.
Tahap selanjutnya adalah penghalusan permukaan, yang memerlukan ketelatenan agar hasilnya kuat, rata, dan nyaman digunakan.
Meskipun proses ini memerlukan waktu dan tenaga yang cukup besar, hasil akhirnya dikenal memiliki daya tahan tinggi serta kualitas yang lebih baik dibandingkan produk buatan pabrik.
Pusat Penjualan dan Distribusi
Produk cobek dari Sanggrahan umumnya dijual secara langsung di rumah pengrajin. Pembeli dapat datang langsung, memilih ukuran, bahkan memesan dalam jumlah besar.
Selain itu, sejumlah pengrajin berjualan secara keliling menggunakan sepeda motor, menjangkau pasar tradisional hingga ke luar kabupaten.
Beberapa pedagang juga menitipkan dagangannya di lapak peralatan dapur di Pasar Wage Tulungagung dan Pasar Campurdarat.
Dukungan Pemerintah Masih Terbatas
Hingga saat ini, dukungan berupa alat modern maupun pelatihan dari pemerintah daerah belum diterima pengrajin. Sebagian pengrajin berharap mendapat bantuan mesin pemotong batu dan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas serta keamanan kerja.(*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah