Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rapat Harian Pagi Ala Bapak-Bapak Tulungagung di Warung Kopi Pinggir Jalan

Yoga Dany Damara • Minggu, 20 Juli 2025 | 15:00 WIB
Warung kopi sederhana dengan bangku kayu, meja plastik jadi pusat kehidupan pagi Tulungagung.
Warung kopi sederhana dengan bangku kayu, meja plastik jadi pusat kehidupan pagi Tulungagung.

TULUNGAGUNG - Setiap pagi, sebelum matahari naik tinggi, ada satu ritual yang tak pernah absen di banyak sudut Tulungagung ngopi di warung pinggir jalan.

Di sinilah para bapak-bapak di Tulungagung berkumpul. Bukan untuk rapat resmi atau diskusi penting pemerintahan, tapi sekadar membahas hidup dengan caranya yang jenaka, santai, tapi kadang mengandung filosofi dalam.

Warung kopi sederhana dengan bangku kayu, meja plastik, dan termos besar jadi pusat kehidupan pagi di Tulungagung.

Di sana, segelas kopi hitam panas tak sekadar pelepas kantuk, tapi juga kunci pembuka obrolan. Topiknya? Bebas sebebas angin pagi.

“Harga gabah sekarang ngedrop, Pak. Tapi biaya pupuk naik. Pusing mikirnya,” celetuk seorang petani.

“Tenang, besok katanya mau hujan, nanti panen bisa bagus lagi,” sahut lainnya, seolah sudah punya ilmu meteorologi versi warung.

Kadang pembicaraan loncat ke politik desa yang seru. Dari siapa yang bakal nyalon jadi kepala dusun, sampai kisah lucu saat pemilu kemarin.

Yang paling ramai adalah sesi "ramalan cuaca" ala bapak-bapak. Cukup lihat arah angin, bentuk awan, atau rasa di sendi lutut, mereka bisa memprediksi apakah siang ini akan panas atau gerimis.

Entah akurat atau tidak, tapi semua manggut-manggut.

Sesi kopi pagi ini sering diselingi tawa lepas, ejekan akrab, dan cerita sehari-hari.

Bagi mereka, ini bukan sekadar ngopi, tapi sarana silaturahmi, tukar kabar, hingga terapi gratis dari penatnya hidup.

Uniknya, rutinitas ini berlangsung tanpa undangan resmi. Tak perlu grup WhatsApp, semua tahu jam kumpulnya. Ketika aroma kopi mulai mengepul, bapak-bapak itu akan datang satu per satu, membawa cerita dan gelak tawa.

Mungkin bagi orang luar, ini hanya kumpulan orang tua yang menghabiskan waktu.

Tapi bagi warga Tulungagung, kopi pagi di warung pinggir jalan adalah bentuk kecil dari kebersamaan yang terus hidup hangat, sederhana, dan tak tergantikan. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#warung #tulungagung #ngopi #pagi #bapak