Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Seni Membungkus Oleh-Oleh Tulungagung dari Daun Pisang, Koran Bekas, sampai Kertas Kado Lebaran Tahun Lalu

Yoga Dany Damara • Jumat, 22 Agustus 2025 | 13:00 WIB
Di Tulungagung, oleh-oleh bukan sekadar soal rasa atau isi. Ada satu bagian penting yang justru sering jadi perhatian pertama bungkusnya.
Di Tulungagung, oleh-oleh bukan sekadar soal rasa atau isi. Ada satu bagian penting yang justru sering jadi perhatian pertama bungkusnya.

RADAR TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, oleh-oleh bukan sekadar soal rasa atau isi. Ada satu bagian penting yang justru sering jadi perhatian pertama bungkusnya.

Kalau kamu pernah menerima kiriman dari saudara di kampung Tulungagung, mungkin sudah akrab dengan pemandangan ini.

Bungkusan jenang di Tulungagung pakai koran bekas, peyek dibungkus plastik berlapis tisu, atau bahkan rengginang dalam kertas kado Lebaran tahun lalu.

Unik? Jelas. Tapi juga bikin ngakak sekaligus terharu.

Bungkus sederhana, rasa luar biasa gaya membungkus oleh-oleh di Tulungagung sering kali spontan, sederhana, dan “apa adanya” tapi justru di situlah letak kehangatannya.

Daun pisang yang dilipat rapi, koran bekas yang diplester hati-hati, hingga kertas kado bekas yang masih ada tulisan “Selamat Hari Raya” semuanya jadi simbol kreativitas orang kampung yang jujur dan tulus.

Tak jarang, membuka oleh-oleh jadi perjuangan tersendiri. Ada yang harus buka tiga lapisan, ada yang pakai staples, tali rafia, hingga lakban tebal yang bikin orang bilang “Buka bungkusnya lebih susah dari makan isinya."

Di balik semua itu, sebenarnya ada filosofi yang sederhana yang penting aman, bersih, dan selamat sampai tujuan.

Nggak perlu kemasan mahal, yang penting isinya sampai dan bisa dinikmati bersama keluarga di rumah.

Dan jangan salah, walau dibungkus seadanya, oleh-oleh kampung ini sering kali punya rasa yang bikin nagih.

Mulai dari gethuk, jenang, kacang oven, hingga rengginang asin-manis, semuanya penuh cita rasa rumahan yang susah dilawan.

Fenomena bungkus oleh-oleh kampung ini sangat cocok dijadikan konten hiburan di media sosial.

Bayangkan video bertema:“Unboxing Oleh-Oleh dari Tulungagung” dengan gaya dramatis, backsound horor saat lakban susah dibuka, atau ekspresi terkejut saat ternyata isinya cuma satu bungkus peyek tapi dibungkus seukuran kardus magic com.

Lucu, hangat, dan sangat relate. Bisa jadi pengingat bahwa kesederhanaan punya caranya sendiri untuk menyentuh hati.

Di era semua serba instan dan mewah, seni membungkus oleh-oleh ala Tulungagung ini mengajarkan kita satu hal penting bahwa yang sederhana, bila dikemas dengan cinta, tetap akan terasa istimewa. (*)

Editor : Dharaka R. Perdana
#oleh-oleh #tulungagung #Bungkus