RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah derasnya arus digitalisasi dan gadget yang merajalela di tangan anak-anak di Tulungagung, masih ada satu tradisi kampung yang hangat dan penuh makna.
Yakni ngaji sore di langgar atau TPQ sering dijumpai di sudut-sudut desa di Tulungagung.
Di banyak sudut desa di Tulungagung, pemandangan anak-anak kecil berjalan tergesa-gesa sambil membawa iqro atau Al-Qur’an, mengenakan peci yang kadang miring dan mukena yang belum sempat dirapikan, masih menjadi rutinitas yang membahagiakan.
Tapi jangan bayangkan suasananya seperti kelas formal nan hening. Justru di sinilah letak keunikannya.
Ngaji sore di desa sering kali diselingi suara tawa, panggilan teman, bahkan kadang rebutan sandal atau main petak umpet sebelum ustaz atau ustazah datang.
Ada yang sambil mainan, ada yang tiba-tiba menghilang sebentar buat beli es lilin di warung sebelah, lalu balik lagi pura-pura belum absen.
TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) bukan cuma tempat belajar mengaji.
Ia sudah jadi ruang sosial anak kampung, tempat mereka belajar adab, bermain, bertumbuh, dan mengenal nilai kebersamaan.
Satu momen lucu dan hangat misalnya, ketika seorang anak harus rela berdiri karena sandalnya dipakai temannya yang pulang lebih dulu kejadian klasik yang selalu ada dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Serunya Anak-anak Tulungagung Main Bola Plastik Diikat Karet, Bola Bocor Bukan Masalah
Meski tantangannya makin besar dengan hadirnya YouTube, game online, dan sosial media, keberadaan TPQ tetap dipertahankan oleh para orang tua dan pengajar.
Mereka sadar, ini bukan sekadar tempat belajar huruf hijaiyah, tapi tempat menanam nilai dari akar. Kombinasi antara kekanak-kanakan, religiusitas, dan suasana kampung yang hangat menjadikan tradisi ini punya daya tarik human interest yang kuat.
Bagi banyak orang dewasa, mengingat masa-masa TPQ adalah nostalgia yang manis masa di mana belajar bisa diselingi main, dan tawa tak pernah diatur-atur.
Tradisi ngaji sambil mainan ini adalah bukti bahwa pendidikan tak selalu harus kaku, dan bahwa nilai spiritual bisa tumbuh bersama keceriaan masa kecil.
Di tengah zaman serba digital, TPQ kampung di Tulungagung tetap jadi benteng kecil yang menjaga tradisi, iman, dan kenangan masa kecil yang tak tergantikan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana