RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah gempuran teknologi kesehatan modern, ada satu kebiasaan di Tulungagung yang tetap bertahan dengan kokohnya kerokan.
Setiap sore di Tulungagung, pemandangan orang duduk di teras rumah sambil membungkuk dan membiarkan punggungnya digores koin oleh tangan ahli biasanya ibu, nenek, atau tetangga masih jadi hal yang sangat lazim.
Kerokan di Tulungagung bukan sekadar pengobatan masuk angin. Ini ritual. Mulai dari minyak kayu putih yang dioles dengan gerakan memutar, hingga koin logam yang digesek perlahan namun pasti.
Garis-garis merah yang timbul di punggung justru jadi tanda keberhasilan "Wah, masuk anginnya parah, sampai merah semua!"
Baca Juga: Tanpa Obat, Warga Tulungagung Bisa Langsing dengan 11 Menu Makanan
Meski terdengar kuno, tradisi ini punya kekuatan yang tak bisa diremehkan. Selain dipercaya ampuh mengusir pegal, meriang, dan perut kembung, kerokan juga menyimpan nilai-nilai kekeluargaan dan keakraban.
Kadang, sesi kerokan berujung curhat panjang atau bahkan candaan soal gosip tetangga. Yang menarik, generasi muda pun tak sungkan minta dikerokin saat merasa tidak enak badan.
Bahkan, ada yang rela pulang kampung hanya untuk “kerokan sama ibu” karena katanya, “kalau bukan ibu yang ngelakuin, gak sembuh-sembuh."
Baca Juga: Kenali Toga, Tanaman Obat Keluarga: Manfaat, Jenis, dan Cara Menanamnya di Rumah
Tradisi ini juga punya sisi viral: visual garis merah khas kerokan sering dijadikan bahan humor, meme, atau bahkan konten edukasi tentang budaya kesehatan tradisional.
Di era di mana segala sesuatu bisa jadi konten, kerokan pun tak ketinggalan tampil gaya meskipun tetap berbekal minyak kayu putih dan koin seribuan.
Kerokan bukan hanya soal masuk angin. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif, kehangatan rumah, dan pengingat bahwa tak semua hal harus disembuhkan dengan resep dokter.
Kadang, cukup dengan duduk di teras, diusap tangan orang terdekat, dan garis-garis merah yang muncul sembuh pun terasa lebih cepat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana