TULUNGAGUNG – Di tengah waktu produksi yang sangat terbatas, tim Acobean Animation asal Tulungagung menunjukkan dedikasi luar biasa dalam ajang RaTu Film Festival (RFF) 2025.
Meski baru mengetahui adanya kategori animasi kurang dari sebulan sebelum batas pengumpulan karya, mereka tetap bertekad untuk menuntaskan film mereka tepat waktu.
Angga Budi Y, perwakilan tim, menceritakan betapa padatnya proses produksi yang mereka jalani.
“Produksi animasi cuma kurang dari satu bulan, jadi kurang tidur banget. Kadang laptop sampai tidak mampu merespons karena dipaksa terus jalan,” ujarnya sambil tertawa.
Meski situasi begitu menantang, semangat mereka justru tak surut.
“Kami sangat berantusias, walau baru dapat info RFF dan tahu waktu pengumpulan karya tinggal sebulan. Tapi justru itu yang bikin kami makin terpacu,” ungkap Angga.
Tantangan terbesar bagi tim ini bukan hanya waktu yang singkat, tetapi juga keterbatasan peralatan dan sumber daya manusia.
“Spek laptop kami kurang memadai, anggota tim terbatas, dan waktu mepet banget. Bahkan kami tidur bergantian supaya produksi tetap jalan,” tambahnya.
Mereka menilai tema RFF tahun ini sebenarnya menarik dan cukup mudah dipahami, meski persyaratan teknis membuat ruang eksplorasi jadi lebih sempit.
“Temanya lumayan gampang, tapi ada beberapa batasan yang bikin kami harus lebih kreatif menyesuaikan,” kata Angga.
RFF 2025 menjadi pengalaman pertama bagi tim ini dalam kompetisi film berskala besar, terutama di kategori animasi.
“Ini pertama kalinya kami ikut, baru tahu juga kalau ada kategori animasi di RFF. Biasanya animasi kan banyaknya di luar kota atau provinsi,” jelasnya.
Bagi mereka, keikutsertaan di RFF kali ini bukan sekadar ajang kompetisi, tapi juga kebanggaan karena bisa berkarya di tanah sendiri.
“Kami ingin berpartisipasi di kota sendiri. Rasanya berbeda ketika bisa menampilkan karya animasi dari Tulungagung untuk Tulungagung,” tutur Angga.
Melalui karya animasi yang mereka garap dengan penuh perjuangan, tim ini ingin menyampaikan pesan mendalam tentang kehilangan dan harapan.
“Kami ingin menyampaikan bahwa kehilangan orang tersayang memang berat dan menyakitkan, tapi berlarut-larut dalam kesedihan bukan jawabannya. Hidup harus terus berjalan. Kita harus mencari alasan untuk tetap melangkah ke depan tanpa melupakan masa lalu, menjadikannya pelajaran,” pungkasnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri