RADAR TULUNGAGUNG - Tidak semua orang menutup tahun dengan pesta. Tidak semua kebahagiaan perlu suara keras, kembang api, atau hitungan mundur.
Di Tulungagung, akhir 2025 berjalan seperti biasa dan justru di situlah keistimewaannya.
Pagi masih dimulai dengan suara motor lewat gang kecil, aroma kopi meminumnya bisa menikmati pemandangan di Tulungagung, dan langit yang kadang mendung, kadang cerah.
Tidak ada yang berubah drastis, tetapi ada rasa cukup yang pelan-pelan tumbuh. Hidup terasa tidak dikejar-kejar.
Menghabiskan akhir tahun di Tulungagung berarti berdamai dengan ritme yang lebih lambat. Pantai-pantai di selatan tidak dipenuhi euforia berlebihan.
Warung tetap buka dengan menu yang sama, harga yang ramah, dan obrolan yang apa adanya. Orang-orang datang bukan untuk pamer liburan, melainkan untuk bernapas lebih panjang.
Sore hari sering dihabiskan tanpa agenda besar. Duduk di teras, mendengar hujan jatuh sebentar lalu reda, atau berjalan ringan di sekitar kota.
Tidak ada daftar resolusi panjang cukup mengingat hal-hal kecil yang berhasil dilewati sepanjang tahun.
Malam tahun baru pun tidak selalu dirayakan. Banyak yang memilih pulang lebih awal, menyalakan televisi sebentar, lalu mematikan lampu dan tidur.
Bukan karena tidak peduli pada pergantian tahun, tetapi karena memahami bahwa hidup tetap berjalan keesokan harinya.
Akhir 2025 di Tulungagung mengajarkan satu hal penting sederhana bukan berarti kurang. Kadang justru di situlah rasa tenang menemukan tempatnya.
Tidak perlu jauh pergi, tidak perlu ramai-ramai. Cukup berada di rumah, di kota sendiri, dan merasa baik-baik saja. Dan mungkin, itu cara terbaik menutup tahun tanpa gegap gempita, tapi penuh makna. ****
Editor : Dharaka R. Perdana