RADAR TULUNGAGUNG - Tidak semua orang menutup tahun dengan kembang api dan pesta yang meriah.
Di Tulungagung, banyak orang justru menutupnya dengan napas panjang pelan, tanpa sorak, tanpa perayaan berlebihan. Dan entah mengapa, itu terasa sangat manusiawi.
Baca Juga: Sekelumit Kisah Seni Bertahan Hidup ala Warga Tulungagung Jenius yang Lahir dari Kesederhanaan
Akhir tahun sering kali datang dengan daftar pencapaian, resolusi, dan target baru. Tapi di sudut-sudut Tulungagung, ada orang-orang yang cukup bangga karena satu hal sederhana mereka masih bertahan.
Masih bangun pagi. Masih berangkat kerja. Masih menanak nasi, menyeduh kopi, dan menjalani hari seperti biasa.
Di warung kopi pinggir jalan, obrolan tak lagi soal mimpi besar. Yang dibahas justru hal-hal kecil hujan yang makin sering, harga kebutuhan, atau rencana pulang lebih cepat. Tidak terdengar ambisi besar, tapi ada keteguhan yang diam-diam kuat.
Pantai-pantai Tulungagung tetap berisik oleh ombak, bukan oleh teriakan wisatawan. Sawah-sawah masih setia pada siklusnya. Kota ini seolah berkata tidak apa-apa jika tahun ini hanya dilewati, bukan dimenangkan.
Bertahan sampai akhir tahun bukan perkara sepele. Ada yang bertahan dari lelah yang tak sempat diceritakan. Ada yang bertahan dari rencana yang gagal.
Ada juga yang bertahan dari kehilangan tanpa pernah benar-benar tahu bagaimana caranya. Di Tulungagung, bertahan bukan berarti kalah. Justru itu bentuk keberanian paling sunyi. Tidak dipamerkan, tidak dirayakan, tapi nyata.
Maka jika kamu ada di sini, di penghujung tahun, masih bisa duduk tenang dan melihat hari berganti itu sudah cukup. Tidak perlu pembenaran maupun perbandingan.
Tulungagung mengajarkan satu hal sederhana di akhir tahun kadang, bertahan saja sudah hebat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana