Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal-usul Nama Tulungagung: Dari Rawa Ngrowo, Sumber Air Besar, hingga Pusat Kota yang Berkembang

Davina Ar Raafika • Minggu, 15 Februari 2026 | 18:30 WIB
Asal-usul Tulungagung berasal dari rawa Ngrowo dan sumber air besar yang kemudian dikeringkan hingga berkembang menjadi pusat kota.
Asal-usul Tulungagung berasal dari rawa Ngrowo dan sumber air besar yang kemudian dikeringkan hingga berkembang menjadi pusat kota.

RADAR TULUNGAGUNG – Asal-usul nama Tulungagung tidak muncul secara tiba-tiba. Sejarah mencatat bahwa wilayah ini mengalami perjalanan panjang, mulai dari daerah rawa yang dikenal sebagai Ngrowo hingga berkembang menjadi pusat pemerintahan dan kota yang ramai seperti sekarang.

Kisah terbentuknya Tulungagung bukan hanya berkaitan dengan geografi, tetapi juga budaya, kepercayaan, dan upaya masyarakat dalam mengelola lingkungan.

Dalam riwayat lama, kawasan yang kini menjadi pusat kota berada di sekitar alun-alun dan meliputi daerah seperti Kauman dan Kampungdalem.

Nama Tulungagung sendiri diyakini berasal dari dua kata, yaitu “tulung” dan “agung”. Dalam penafsiran bahasa Sanskerta dan Jawa, tulung dapat berarti sumber air atau pertolongan, sedangkan agung berarti besar. Secara keseluruhan, Tulungagung dapat dimaknai sebagai “sumber air besar” sekaligus “pertolongan besar”.

Makna ganda ini dianggap mencerminkan kondisi wilayah tersebut pada masa lampau.

Dahulu daerah ini dikenal sebagai Ngrowo, sebuah kawasan rawa luas dengan banyak sumber air. Transportasi utama masyarakat dilakukan melalui sungai, yang hingga kini masih dikenal sebagai Sungai Ngrowo.

Wilayah Rawa yang Berkembang

Pada masa sebelum menjadi kabupaten, daerah-daerah di wilayah Ngrowo dipimpin oleh para tumenggung di bawah perlindungan Kerajaan Mataram.

Banyak pemukiman dan tempat penting berada tidak jauh dari aliran sungai, karena air menjadi sumber kehidupan utama masyarakat.

Seiring waktu, kebutuhan akan lahan pertanian dan permukiman semakin meningkat.

Rawa yang luas dianggap menghambat perkembangan wilayah. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memperluas daratan dan memperbaiki kondisi lingkungan agar lebih produktif.

Pada abad ke-19, wilayah Ngrowo mengalami perubahan besar melalui penambahan daerah dari kabupaten-kabupaten sekitar.

Beberapa wilayah yang disebut dalam catatan sejarah antara lain bantuan daerah dari Blitar, pegunungan dari Ponorogo, wilayah dari Trenggalek, serta kawasan pantai selatan dari Pacitan.

Bantuan tersebut dianggap sebagai “pertolongan besar” yang memungkinkan terbentuknya wilayah administratif yang lebih luas dan stabil.

Perubahan Nama Menjadi Tulungagung

Para pemimpin wilayah pada masa itu masih menggunakan sebutan Bupati Ngrowo hingga pergantian nama resmi pada awal abad ke-20.

Sekitar tahun 1901, nama Ngrowo diganti menjadi Tulungagung untuk mencerminkan identitas baru daerah tersebut, sekaligus mengingatkan pada sejarah sumber air besar yang menjadi awal terbentuknya kota.

Selain itu, Tulungagung juga pernah dikenal sebagai “kota banjir”, karena kondisi geografisnya yang rendah dan dekat dengan aliran air.

Namun, justru dari tantangan itulah masyarakat setempat mengembangkan berbagai cara untuk mengelola lingkungan dan memperbaiki tata ruang wilayah.

Pembangunan Alun-alun dan Pengeringan Rawa

Sejarah juga mencatat bahwa pembangunan pusat kota tidak berjalan mudah. Upaya awal untuk mendirikan alun-alun pernah dilakukan di beberapa lokasi, tetapi mengalami kegagalan karena berbagai kendala, termasuk perbedaan pendapat di antara para pemimpin setempat.

Akhirnya, petunjuk yang diperoleh dari pihak kerajaan menyarankan agar pusat kota dibangun di lokasi yang memiliki sumber air besar di sebelah utara wilayah tertentu.

Sumber air tersebut harus dikendalikan terlebih dahulu agar kawasan di sekitarnya dapat dimanfaatkan.

Dalam tradisi lokal, diceritakan bahwa proses penyumbatan sumber air melibatkan pengerahan tenaga besar dan berbagai cara yang pada masa itu juga dipengaruhi kepercayaan spiritual masyarakat.

Setelah sumber air berhasil dikendalikan, wilayah rawa perlahan mengering dan berubah menjadi tanah subur yang dapat dihuni.

Di tengah alun-alun kemudian ditanam pohon beringin yang menjadi simbol pusat kota.

Pohon tersebut dikenal sebagai Ringin Kurung, karena dahulu dikelilingi pagar tembok. Keberadaan beringin di alun-alun juga memiliki makna filosofis dalam budaya Jawa, yaitu sebagai lambang perlindungan dan persatuan masyarakat.

Dari Rawa Menjadi Kota

Pengeringan rawa menjadi titik balik penting bagi perkembangan Tulungagung.

Tanah yang sebelumnya tergenang air berubah menjadi lahan pertanian dan permukiman.

Aktivitas ekonomi mulai berkembang, dan kota menjadi semakin ramai.

Seiring berjalannya waktu, Tulungagung tumbuh sebagai salah satu daerah penting di wilayah selatan Jawa Timur.

Meski kondisi geografisnya tetap menantang, pengalaman panjang dalam mengelola air justru menjadi bagian dari identitas daerah ini.

Sejarah asal-usul Tulungagung menunjukkan bahwa nama sebuah kota sering kali menyimpan cerita panjang tentang perjuangan manusia beradaptasi dengan alam.

Dari sumber air besar hingga pertolongan besar bagi masyarakatnya, Tulungagung menjadi contoh bagaimana sejarah, lingkungan, dan budaya dapat berpadu membentuk jati diri sebuah daerah.

Editor : Davina Ar Raafika
#asal usul Tulungagung #ngrowo #kota tulungagung #Sejarah Jawa Timur #sejarah tulungagung