Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jejak Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung: Kisah Anak Buruh Jadi Raja Kretek, Bangkit dari Nol hingga Runtuh di Era Industri Modern

Dyah Wulandari • Kamis, 19 Februari 2026 | 17:05 WIB

Sejarah Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung dari usaha rumahan hingga berjaya dan runtuh di tengah persaingan industri modern
Sejarah Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung dari usaha rumahan hingga berjaya dan runtuh di tengah persaingan industri modern

TULUNGAGUNG - Kisah berdirinya Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung menjadi salah satu cerita inspiratif tentang perjuangan ekonomi rakyat di Jawa Timur. Dari sebuah usaha rumahan sederhana, industri kretek ini pernah menjelma menjadi penopang ribuan tenaga kerja dan simbol kebangkitan ekonomi lokal di Tulungagung.

Pendiri Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung, Sumiran Karsodiwiryo, lahir pada 9 September 1921 dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya seorang buruh lapangan yang bekerja serabutan, mulai dari menggali tanah hingga memasang tiang listrik. Kondisi ekonomi keluarga membuat Sumiran kecil terbiasa bekerja sejak usia enam tahun.

Semangat kerja keras itulah yang kemudian menjadi fondasi lahirnya Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung, sebuah industri lokal yang pernah mengubah wajah ekonomi masyarakat sekitar. Sepulang sekolah, Sumiran membantu orang tua sekaligus mulai berdagang kecil-kecilan untuk menambah penghasilan keluarga.

Baca Juga: Tangis Pecah di Bioskop! Akademia D'Academy 7 Tak Kuasa Tahan Haru Saat Nobar Film Rumah Tanpa Cahaya, Ternyata Ini Penyebabnya

Awal Perjuangan dari Rokok Kelobot Rumahan

Pendidikan formal Sumiran terbilang sederhana. Ia hanya menamatkan Sekolah Rakyat. Namun pengalaman hidup membuatnya memiliki mental wirausaha kuat. Setelah menikah pada awal 1940-an, Sumiran mulai merintis usaha kecil dari rumah.

Pada Mei 1946, ia memproduksi rokok kretek kelobot secara manual bersama istrinya. Tembakau diracik sendiri, sementara proses pelintingan dilakukan dengan tangan. Produk pertama diberi merek Cap Ikan Dorang dan dipasarkan langsung dari pasar ke pasar.

Baca Juga: Heboh Penemuan Homo Wajakensis di Tulungagung, Fosil Manusia Purba 40 Ribu Tahun Ini Disebut Cikal Bakal Ras Melayu Indonesia

Nama “Reco Pentung” baru muncul setelah masa agresi militer Belanda sekitar 1948. Saat itu sebuah patung ikonik di perbatasan kota diruntuhkan. Sumiran kemudian menjadikan nama tersebut sebagai simbol perlawanan sekaligus semangat kebangkitan usaha.

Produksi awal hanya melibatkan 5 hingga 20 pekerja. Namun dalam beberapa tahun, permintaan meningkat pesat karena cita rasa kretek yang khas dan aromatik.

Industri Lokal yang Pernah Menghidupi Ribuan Buruh

Memasuki 1950-an hingga awal 1960-an, usaha rokok Reco Pentung berkembang pesat. Jumlah pekerja meningkat hingga ribuan orang. Aktivitas ekonomi masyarakat ikut terdongkrak, dari sektor perdagangan hingga transportasi.

Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih Siap Dongkrak Ekonomi, Siapkan 1,6 juta Lapangan Kerja

Namun situasi politik nasional pada era 1960-an membuat industri ini sempat terpukul. Produksi menurun drastis dan sebagian besar buruh terpaksa dirumahkan.

Sumiran tidak menyerah. Ia melakukan inovasi dengan meluncurkan produk sigaret kretek putih dan memperbaiki kualitas produksi. Kebangkitan kembali terjadi pada awal 1970-an.

Puncaknya pada 1991, jumlah karyawan mencapai sekitar 4.500 orang. Saat itu Reco Pentung menjadi salah satu industri rokok terbesar di Jawa Timur bagian selatan dan mulai bersaing dengan perusahaan besar seperti Gudang Garam, Djarum, HM Sampoerna, Bentul, serta Nojorono.

Baca Juga: Kembang Sore Tulungagung Terancam Hilang? Tokoh Masyarakat Ambulu Bongkar Fakta Mengejutkan Soal Nasib Ikon Lokal Ini

Selain mengembangkan industri, Sumiran juga aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi pengusaha rokok di wilayah Kediri.

Peran Pariwisata dan Mitos Laut Selatan

Tidak hanya di sektor industri, Sumiran juga berperan dalam pengembangan wisata daerah. Ia ikut mengembangkan kawasan Pantai Popoh melalui perusahaan keluarga.

Baca Juga: Kritik Kebijakan 58% Anggaran Desa untuk Koperasi Merah Putih: Risiko dan Dampaknya

Kesuksesan besar tersebut kemudian melahirkan berbagai cerita mistis di masyarakat. Salah satu yang paling populer adalah mitos keterkaitan usaha Reco Pentung dengan Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan dalam kepercayaan masyarakat Jawa.

Namun pihak keluarga menegaskan bahwa keberhasilan Sumiran murni berasal dari kerja keras dan ketekunan, bukan praktik pesugihan.

Runtuh di Era Industri Modern

Memasuki era 1990-an, perubahan besar terjadi pada industri rokok nasional. Perusahaan bermodal besar dengan teknologi modern mulai mendominasi pasar. Sementara Reco Pentung masih mengandalkan sistem semi-manual.

Baca Juga: Legenda Pertolongan Agung dan Sejarah Tulungagung: Dari Kerajaan Kediri hingga Perlawanan Kiai Hasan Munadi

Kenaikan cukai, biaya produksi tinggi, dan persaingan ketat membuat kondisi perusahaan semakin sulit. Sekitar 1995, pabrik akhirnya berhenti beroperasi. Ribuan buruh kehilangan pekerjaan dan aset perusahaan sempat menjadi sengketa hukum.

Meski demikian, nama Reco Pentung tetap dikenang sebagai simbol kejayaan industri lokal.

Kini bangunan bekas pabrik masih berdiri sebagai saksi sejarah. Di balik tembok tua dan mesin yang tak lagi beroperasi, tersimpan kisah perjuangan seorang anak buruh yang pernah membangun imperium kretek dari nol.

Baca Juga: Presiden Prabowo Targetkan 30.000 Koperasi Desa Merah Putih untuk Perkuat Ekonomi Lokal

Kisah Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung menjadi pengingat bahwa kerja keras, inovasi, dan ketekunan mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan ekonomi rakyat.

Editor : Dyah Wulandari
#pabrik rokok #sejarah #rokok kretek #Sumiran Karsodiwirjo #Reco Pentung Tulungagung