RADAR TULUNGAGUNG - Menyediakan menu sahur dan berbuka sudah menjadi tradisi Masjid Al Fatah saat Ramadan tiba.
Bedanya, menu sahur hanya tersedia di 10 hari terakhir bulan puasa. Semua disediakan secara gotong-royong.
Saat sebagian besar jalanan Tulungagung mulai lengang pada dini hari, suasana berbeda justru terlihat di Masjid Al Fatah.
Masjid yang berada di pusat kota ini tetap ramai oleh jemaah yang beritikaf maupun sekadar beristirahat menunggu waktu sahur.
Salah satu penggerak kegiatan masjid, Badri, mengatakan bahwa Masjid Al Fatah memang memiliki tradisi melayani jemaah dengan menyediakan makanan selama Ramadan.
Jika saat berbuka puasa masjid menyiapkan lebih dari 700 porsi nasi untuk jemaah, termasuk mahasiswa perantau, maka pada sepuluh malam terakhir Ramadan, panitia juga menyediakan sahur gratis.
“Biar mereka tidak bingung. Yang datang pukul 00.00 atau 01.00 dini hari untuk iktikaf tidak perlu keluar lagi mencari warung. Pukul 03.00, makanan untuk sahur sudah siap,” ujarnya.
Sekitar 250 porsi sahur disiapkan setiap malam. Jumlah tersebut memang lebih sedikit dibanding porsi berbuka, tetapi sangat berarti bagi jemaah yang bermalam di masjid.
Apalagi, banyak di antaranya merupakan mahasiswa perantau maupun warga lanjut usia yang membutuhkan tempat singgah sekaligus makanan sahur.
"Memang lebih sedikit dibanding menu berbuka, namun cukup membantu mereka yang membutuhkan," tambahnya.
Pria ramah ini mengaku, di balik tersedianya hidangan tersebut, dapur masjid bekerja dengan semangat gotong royong.
Meski harga bahan pokok sempat melonjak, seperti cabai yang pernah menyentuh Rp 100 ribu per kilogram di Pasar Ngemplak, kegiatan memasak tetap berjalan.
Bahan makanan dari donasi jemaah seperti beras, telur, hingga bumbu dapur diolah menjadi menu rumahan seperti rawon, ayam, hingga sayur lodeh.
Pengelolaan sedekah di masjid ini juga mengikuti perkembangan zaman. Jemaah yang ingin berdonasi cukup memindai kode QRIS yang tersedia di beberapa sudut masjid.
“Sedekah tidak kami tentukan jumlahnya. Seikhlasnya saja,” kata Badri.
Bagi banyak jemaah, sepiring nasi di Masjid Al Fatah bukan sekadar makanan. Bagi mahasiswa perantau atau jemaah lansia, hidangan itu menjadi bentuk kepedulian yang menghangatkan.
Di sepuluh malam terakhir Ramadan, masjid ini seolah menjadi rumah singgah bagi siapa saja yang datang untuk beribadah dan mencari keberkahan. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri