Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Babad Tulungagung: Kisah Tragis Roro Kembang Sore hingga Peran Patih Gajah Mada yang Jarang Diketahui

Manda Dwi Agustin • Selasa, 28 April 2026 | 20:05 WIB
Babad Tulungagung mengungkap kisah Roro Kembang Sore dan peran Gajah Mada dalam legenda sejarah penuh tragedi.
Babad Tulungagung mengungkap kisah Roro Kembang Sore dan peran Gajah Mada dalam legenda sejarah penuh tragedi.

 

RADAR TULUNGAGUNG – Babad Tulungagung kembali menarik perhatian publik setelah kisahnya diangkat dalam sebuah video YouTube yang mengupas sisi tragis sejarah lokal.

Babad Tulungagung tidak hanya menyimpan legenda, tetapi juga menyiratkan hubungan dengan tokoh besar seperti Gajah Mada.

Babad Tulungagung dikenal sebagai salah satu warisan cerita rakyat yang memuat nilai sejarah, budaya, dan konflik sosial di masa lampau.

Dalam kisah ini, disebutkan bahwa peristiwa yang terjadi turut menjadi salah satu latar yang mengantarkan seorang perwira bernama Mada diangkat menjadi patih kepercayaan kerajaan.

Baca Juga: Sejarah Desa Kalangbret Tulungagung Terungkap, Bukan dari Kisah Adipati Kalang? Fakta Prasasti dan Perjanjian Giyanti Buka Cerita Baru

Kisah Cinta yang Berujung Tragedi

Cerita dalam Babad Tulungagung berpusat pada sosok Roro Kembang Sore, seorang wanita cantik yang hidup dalam tekanan konflik keluarga dan kekuasaan.

Ia digambarkan sebagai tokoh yang menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan dan kekerasan yang terjadi di sekitarnya.

Kisah bermula saat Roro Kembang Sore bertemu dengan Pangeran Lembu Peteng di sebuah taman. Pertemuan tersebut berkembang menjadi hubungan asmara yang begitu dalam.

Namun, hubungan itu tidak direstui oleh pihak keluarga, khususnya ayahnya yang dikenal sebagai Pangeran Berdalem.

Konflik pun tak terelakkan. Hubungan tersebut memicu kemarahan dan berujung pada pengejaran terhadap pasangan tersebut.

Dalam pelarian, tragedi terjadi ketika Pangeran Lembu Peteng dibunuh dan jasadnya dibuang ke sungai oleh pihak yang mengejar mereka.

Pelarian dan Perubahan Nasib

Setelah menyaksikan kematian kekasihnya, Roro Kembang Sore memilih melarikan diri. Ia kemudian tiba di Desa Dadapan dan tinggal bersama seorang perempuan tua yang dikenal sebagai Mbok Rondo.

Namun, masalah kembali muncul ketika putra Mbok Rondo, Joko Bodo, jatuh hati pada Roro Kembang Sore.

Baca Juga: Perbedaan Sunni dan Syiah: Sejarah, Akar Konflik, hingga Perbedaan Mazhab dalam Islam yang Jarang Dijelaskan

Lamaran yang terus ditolak membuat situasi memanas hingga akhirnya berujung pada peristiwa mistis yang dipercaya masyarakat setempat sebagai asal-usul Gunung Budeg.

Dalam perjalanan selanjutnya, Roro Kembang Sore menyamar sebagai seorang pertapa wanita bernama Resi Winandi di Gunung Cilik. Di sanalah ia merancang balas dendam terhadap pihak yang telah menghancurkan hidupnya.

Keterlibatan Patih Gajah Mada

Bagian penting dalam Babad Tulungagung adalah keterlibatan Gajah Mada yang saat itu masih dikenal sebagai perwira Mada.

Ia disebut turut berperan dalam penumpasan Adipati Kalang, tokoh yang terlibat dalam konflik dan kekacauan tersebut.

Pasukan yang dipimpin Mada berhasil memburu dan menewaskan Adipati Kalang. Peristiwa ini dipercaya menjadi salah satu momen penting yang mengantarkan Mada menuju posisi strategis sebagai patih di Kerajaan Majapahit.

Nilai Sejarah dan Budaya

Meski sarat dengan unsur legenda, Babad Tulungagung tetap dianggap sebagai bagian penting dari khazanah sejarah lokal.

Cerita ini tidak hanya menggambarkan konflik kekuasaan, tetapi juga menyampaikan nilai tentang cinta, pengorbanan, dan keadilan.

Selain itu, kisah ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lalu memaknai peristiwa melalui simbol-simbol alam dan cerita turun-temurun.

Baca Juga: Sejarah Kabupaten Tulungagung dari 1205 hingga Kini, Kisah Ngrowo, Prasasti Lawadan, dan Lahirnya Kota Marmer

Beberapa lokasi yang disebut dalam cerita, seperti Gunung Budeg dan Desa Dadapan, hingga kini masih dikenal oleh masyarakat Tulungagung.

Antara Fakta dan Legenda

Perlu dicatat, sebagian besar isi Babad Tulungagung bersifat semi-historis. Artinya, tidak semua peristiwa dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun demikian, keberadaan cerita ini tetap penting sebagai identitas budaya daerah.

Babad Tulungagung menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu tercatat dalam prasasti atau dokumen resmi. Banyak kisah yang hidup melalui lisan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Kini, dengan berkembangnya media digital, cerita-cerita seperti ini kembali mendapat perhatian luas, terutama dari generasi muda yang mulai tertarik menggali sejarah lokal.

 

Editor : Manda Dwi Agustin
#asal usul Tulungagung #roro kembang sore #sejarah tulungagung