JAKARTA - Candi Sanggrahan di Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, menjadi salah satu peninggalan penting era Majapahit yang menyimpan sejarah besar. Candi bercorak Buddha ini disebut sebagai tempat persinggahan rombongan pembawa abu jenazah Gayatri Rajapatni, nenek Hayam Wuruk sekaligus tokoh penting Kerajaan Majapahit.
Keberadaan Candi Sanggrahan kini masih terawat dan menjadi destinasi wisata sejarah di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu. Selain nilai sejarahnya, kawasan candi juga dikenal memiliki suasana pedesaan yang asri dengan pemandangan alam yang masih hijau.
Dalam video dokumentasi yang beredar, pengunjung memperlihatkan perjalanan menuju kawasan candi sambil menikmati suasana pagi di wilayah Boyolangu. Lokasi candi berada di tengah permukiman warga, namun akses menuju lokasi disebut cukup mudah karena terdapat papan penunjuk arah di setiap persimpangan jalan.
Baca Juga: Moto3 2026 Feda Ega Pratama Jerez: Comeback Gila dari P17 ke P6 Bikin Honda dan Aoyama Terkesima
Candi Sanggrahan Disebut Berkaitan dengan Gayatri Rajapatni
Menurut penjelasan dalam video tersebut, Candi Sanggrahan merupakan bangunan peninggalan Majapahit yang dibangun sekitar masa pemerintahan Hayam Wuruk pada 1359 hingga 1389 Masehi.
Candi ini disebut memiliki fungsi sebagai tempat persinggahan rombongan yang membawa abu jenazah Gayatri Rajapatni dari Keraton Majapahit menuju tempat perabuan berikutnya. Gayatri Rajapatni dikenal sebagai istri Raden Wijaya dan tokoh penting di balik kejayaan awal Majapahit.
“Candi Sanggrahan ini dulunya tempat persinggahan untuk mengantarkan abu jenazah Hari Gayatri,” demikian penjelasan dalam dokumentasi video tersebut.
Selain memiliki nilai sejarah, bangunan candi juga memperlihatkan corak budaya Buddha yang masih terlihat dari struktur dan relief batu penyusunnya.
Relief dan Arca Buddha Jadi Daya Tarik Sejarah
Di kawasan Candi Sanggrahan terdapat sejumlah peninggalan arkeologis yang menjadi perhatian pengunjung. Salah satunya adalah keberadaan arca Buddha dengan posisi mudra berbeda-beda.
Dalam keterangan video disebutkan terdapat lima arca Buddha yang dahulu berada di kawasan candi. Namun, demi alasan keamanan, arca tersebut kini dipindahkan ke Museum Wajakensis.
Baca Juga: Sepeda Lipat Polygon Metro 16 Inch 2025 Viral, Harga Rp3,2 Juta, Ini Spesifikasi dan Kelebihannya
Struktur candi sendiri tersusun dari batu andesit khas bangunan era Hindu-Buddha di Jawa Timur. Relief pada bagian tubuh candi juga masih terlihat cukup terawat meski usia bangunan telah mencapai ratusan tahun.
Saat ini pemerintah dan masyarakat sekitar juga disebut tengah melakukan penataan kawasan, termasuk pembangunan pagar pelindung di area candi.
Keberadaan candi di tengah desa membuat suasana wisata terasa berbeda dibanding situs sejarah lain yang berada di pusat kota. Pengunjung masih dapat menikmati suasana persawahan, aktivitas warga mencari ikan, hingga udara pagi khas pedesaan Tulungagung.
Jadi Wisata Sejarah dan Edukasi di Tulungagung
Selain dikenal sebagai kota marmer, Tulungagung juga menyimpan banyak situs sejarah peninggalan masa kerajaan Hindu-Buddha. Candi Sanggrahan menjadi salah satu destinasi yang mulai banyak dikunjungi wisatawan lokal.
Lokasinya yang berada di Desa Sanggrahan membuat kawasan ini cocok dijadikan wisata edukasi sejarah sekaligus wisata alam pedesaan. Pengunjung dapat mempelajari sejarah Majapahit sambil menikmati suasana tenang di Kecamatan Boyolangu.
Dalam video tersebut, suasana pagi di sekitar candi tampak ramai dikunjungi warga yang berolahraga maupun sekadar menikmati pemandangan. Banyak pengunjung juga memanfaatkan area sekitar untuk bersantai sambil menikmati makanan tradisional seperti nasi pecel dan kopi.
Keberadaan situs sejarah seperti Candi Sanggrahan dinilai penting untuk menjaga warisan budaya Majapahit di Tulungagung. Selain sebagai destinasi wisata, situs ini juga menjadi pengingat bahwa wilayah Tulungagung pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah kerajaan besar di Nusantara.
Hingga kini, relief, struktur bangunan, dan kisah tentang Gayatri Rajapatni masih menjadi daya tarik utama yang membuat Candi Sanggrahan terus dikenal masyarakat luas.
Editor : Divka Vance Yandriana