TULUNGAGUNG, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Sumiran pendiri Reco Pentung bukan hanya dikenang sebagai pengusaha rokok sukses asal Tulungagung, tetapi juga sebagai sosok yang meninggalkan filosofi hidup sederhana, kepedulian sosial, serta semangat pantang menyerah. Kisah perjalanan hidupnya diungkap langsung oleh putra keempatnya, Muyati Dodit Sumiran, yang menceritakan bagaimana sang ayah membangun kerajaan rokok dari titik nol.
Perjalanan Sumiran pendiri Reco Pentung dimulai dari kehidupan yang jauh dari kata berkecukupan. Lahir pada 9 September 1921 di Desa Ringinpitu, Tulungagung, Sumiran merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Keterbatasan ekonomi membuatnya hanya mampu mengenyam pendidikan hingga kelas dua Sekolah Rakyat sebelum akhirnya bekerja demi membantu keluarga.
Kisah Sumiran pendiri Reco Pentung menjadi inspirasi karena membuktikan bahwa kerja keras, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama mampu mengantarkan seseorang membangun usaha besar yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Tulungagung.
Baca Juga: Bangkrut Setelah Berjaya, Kisah Reco Pentung Tulungagung dan Mitos Nyi Roro Kidul yang Terus Hidup
Masa Kecil yang Penuh Perjuangan
Muyati menceritakan, sejak kecil ayahnya telah terbiasa bekerja serabutan. Sumiran pernah mencari rumput, mengasuh anak, menjual es lilin, begedel, kacang, hingga berbagai pekerjaan lainnya demi bertahan hidup.
Saat beranjak remaja, ia merantau ke Kota Tulungagung dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga keturunan Tionghoa bernama Lim Bauci, pemilik penggilingan padi yang saat itu termasuk salah satu orang terkaya di daerah tersebut.
Selama bertahun-tahun bekerja, Sumiran memperoleh banyak pelajaran mengenai kedisiplinan, etos kerja, hingga cara berdagang. Setelah keluar dari keluarga tersebut, ia kembali bekerja sebagai buruh bangunan, montir truk, tukang kayu, dan berbagai pekerjaan lain sebelum akhirnya merintis usaha sendiri.
Awal Mula Lahirnya Reco Pentung
Ide membuat rokok muncul ketika Sumiran menjual es lilin di depan sebuah warung. Ia melihat hampir seluruh pengunjung membeli rokok, sementara dagangan esnya kurang laku karena cuaca mendung.
Pengalaman itu membuatnya mencoba meracik rokok sendiri. Pada awalnya produk tersebut menggunakan merek Cap Udang.
Nama Reco Pentung baru digunakan setelah sebuah patung penanda batas kota yang dikenal masyarakat sebagai Reco Pentung berhasil dikembalikan ke tempat semula pada 2 Mei 1946. Peristiwa itu kemudian menginspirasi Sumiran mengganti nama merek rokoknya menjadi Reco Pentung.
Sebelumnya, ia juga melakukan berbagai inovasi, termasuk menambahkan kristal mentol ke dalam racikan rokok sehingga menghasilkan sensasi segar yang saat itu tergolong baru di pasaran.
Filosofi Hidup yang Selalu Dipegang
Selain dikenal sebagai pengusaha, Sumiran juga meninggalkan berbagai petuah yang hingga kini masih dikenang keluarga.
Salah satu yang paling terkenal berbunyi, "Ojo rumangso sugih ning sugih rumangso" yang bermakna jangan merasa kaya, tetapi kayalah dalam rasa empati terhadap sesama.
Petuah lainnya adalah "Ojo rumangso duwe ning sing duwe rumangso", yang mengajarkan agar manusia tidak merasa paling memiliki, melainkan memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian.
Menurut Muyati, nilai-nilai tersebut selalu diterapkan ayahnya dalam kehidupan sehari-hari maupun saat memimpin perusahaan.
Baca Juga: Begini Kondisi Bekas Pabrik Reco Pentung Tulungagung, Bangunan Megah Kini Terbengkalai dan Sepi
Memperlakukan Karyawan Seperti Keluarga
Sumiran dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para pekerjanya. Ia menganggap karyawan bukan sekadar tenaga kerja, melainkan bagian dari keluarga besar perusahaan.
Filosofi itu sejalan dengan ajaran yang sering disampaikan kepada anak-anaknya, yakni Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana, lan ajining bangsa saka luhuring budaya.
Baginya, kehormatan seseorang tercermin dari tutur kata, cara berpakaian, dan kemampuannya menjaga budaya luhur.
Nilai tersebut kemudian menjadi budaya kerja di lingkungan Reco Pentung, yang pada masa kejayaannya mampu mempekerjakan ribuan warga Tulungagung.
Sosok Dermawan yang Tak Suka Pamer
Muyati juga mengenang ayahnya sebagai pribadi yang gemar membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan.
Dalam berbagai kesempatan, Sumiran kerap memberikan bantuan kepada pedagang kecil, petani, hingga orang yang ditemuinya di perjalanan. Menurut keluarganya, bantuan itu selalu diberikan secara diam-diam tanpa ingin diketahui banyak orang.
Ia bahkan sering membeli seluruh dagangan pedagang kecil, kemudian membagikannya kepada orang lain atau membawanya pulang untuk dinikmati bersama keluarga dan para pekerja.
Bagi keluarga, kepedulian terhadap sesama menjadi salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan Sumiran, selain keberhasilan membangun Reco Pentung sebagai salah satu industri rokok terbesar di Jawa Timur.
Meski perusahaan tersebut kini telah lama berhenti beroperasi, nama Sumiran Karsodiwiryo tetap dikenang sebagai pengusaha lokal yang membangun kesuksesan dari kerja keras, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan mewariskan filosofi hidup yang masih relevan hingga saat ini.
Baca Juga: Villa Reco Pentung Tulungagung Terbengkalai, Dulu Jadi Tempat Singgah Bos Pabrik Rokok Legendaris
Editor : Cholifatun Nisak