TULUNGAGUNG - Kisah pesugihan Ngujang dalam cerita Anto berakhir tragis setelah ritual yang dijalaninya selama bertahun-tahun justru membawa petaka bagi dirinya dan keluarganya. Setelah hampir 10 tahun melakukan ritual, Anto mengalami serangkaian kejadian aneh, kehilangan hartanya, hingga meninggal dalam kondisi mengenaskan.
Kisah tersebut diceritakan melalui sebuah video yang melanjutkan cerita Anto setelah sebelumnya melakukan ziarah ngalap berkah di makam Ngujang, Tulungagung. Dalam cerita itu, Anto awalnya mengikuti arahan Pakde Nugroho dan Mbah Tukimin untuk melakukan ritual yang disebut sebagai ngalap berkah.
Anto kemudian mendapatkan sebuah kantong kain putih yang disebut sebagai kantong pusaka. Benda tersebut harus diasapi dengan dupa dan digunakan dalam ritual setiap malam Jumat.
Saat ritual pertama dilakukan, Anto mengaku mendengar suara pekikan monyet. Tidak lama kemudian, muncul sosok monyet putih yang mengaku sebagai Mbah Rekso Jagat, utusan Eyang Sentono Renggo.
Sosok tersebut meminta Anto terus melakukan ritual dan menjanjikan kelancaran usaha. Anto pun mengikuti permintaan itu. Kantong putih yang digunakan dalam ritual kemudian disimpan di dalam dompet sebagai penarik rezeki.
Dalam cerita tersebut, usaha Anto memang berkembang pesat. Konter miliknya semakin ramai hingga ia mampu membuka cabang usaha dan membeli rumah serta mobil baru.
Namun, perubahan kehidupan Anto justru memunculkan persoalan lain. Warga Gunung Cupu sempat menuduh Hendar dan Ade, orang tua Reni, sebagai dalang kematian Bu Darmi, ibu Anto.
Kecurigaan bermula ketika Qosim, hansip desa, tidak sengaja mendengar percakapan Hendar dan Ade. Dalam percakapan itu, mereka membahas kematian Darmi dan keinginan agar Anto yang meninggal.
Qosim kemudian menceritakan apa yang didengarnya kepada Umar dan Adeng. Rumor semakin kuat setelah Hendar terlihat mengendarai mobil baru. Warga mengaitkan perubahan ekonomi tersebut dengan dugaan pesugihan dan tumbal Bu Darmi.
Rumor itu akhirnya membuat hubungan Reni dengan kedua orang tuanya memburuk. Hendar dan Ade bahkan dikucilkan warga. Sawah mereka tidak lagi banyak digarap hingga akhirnya dijual.
Bertahun-tahun kemudian, Anto mulai mengalami mimpi buruk. Dalam mimpinya, dia berada di pemakaman yang dipenuhi monyet. Sosok-sosok tersebut memperingatkannya agar memutuskan perjanjian. Dalam mimpi lain, Anto melihat Bu Darmi diseret oleh sejumlah monyet.
Mimpi tersebut membuat Anto kembali ke Tulungagung untuk menemui Nugroho. Di sana, pamannya akhirnya menyerahkan surat lama dari Darmi.
Baca Juga: Pesugihan Monyet Tulungagung, Kisah Mengerikan di Balik Makam Ngunjang
Surat itu mengungkap bahwa Darmi disebut rela menjadi tumbal agar Anto dan istrinya bisa hidup bahagia serta terbebas dari kemiskinan dan hinaan. Anto pun menyadari bahwa dirinya tanpa sengaja terlibat dalam ritual yang menjadikan ibunya sebagai tumbal.
Anto kemudian meminta Nugroho membantunya memutus perjanjian. Namun Nugroho mengaku tidak mampu. Ia menyarankan Anto mencari orang yang dapat melepaskan perjanjian tersebut.
Sepulang dari Tulungagung, Anto berhenti melakukan ritual. Namun usahanya mulai merosot. Omzet turun, pelanggan berkurang, dan sebagian karyawan harus dirumahkan. Anto juga disebut telah menghabiskan banyak uang untuk mencari orang yang mampu memutus perjanjian tersebut.
Petaka kemudian datang. Anto mengalami gangguan berat hingga suatu malam melarikan diri dari rumah. Warga menemukannya di area persawahan dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka seperti bekas cakaran.
Kondisinya semakin memburuk. Luka-luka tersebut tidak kunjung sembuh dan berubah menjadi borok bernanah. Anto juga mengalami perubahan perilaku hingga tidak mengenali istri dan anaknya.
Pada hari ke-10, Anto ditemukan meninggal di dalam kamar. Setelah pemakamannya, warga kembali melihat sejumlah monyet bergerak di sekitar rumah Anto dan kemudian menuju kuburannya.
Dalam cerita tersebut, warga akhirnya menyadari bahwa Hendar dan Ade selama ini menjadi korban fitnah. Reni kemudian mengetahui kejadian sebenarnya dari cerita Anto sepulang dari Tulungagung.
Hendar dan Ade akhirnya memaafkan Anto dan Reni. Warga Gunung Cupu juga meminta maaf karena sebelumnya telah mengucilkan keduanya.
Cerita tersebut kemudian menyimpulkan bahwa sosok yang memberikan pesugihan di pemakaman Ngujang bukan Eyang Sentono Renggo, melainkan jin yang disebut berwujud monyet dan mengatasnamakan tokoh tersebut. Kisah itu berakhir dengan Reni yang melanjutkan hidup dan membesarkan anaknya setelah kematian Anto.
Editor : Syarifatul InsaniyahSumber : Diolah dari berbagai sumber