TULUNGAGUNG - Makam Ujang Tulungagung di kawasan Ngujang bukan sekadar kompleks pemakaman umum. Tempat tersebut juga dikenal sebagai lokasi yang didatangi masyarakat untuk berziarah sekaligus menikmati suasana kawasan makam yang teduh. Di balik itu, terdapat sejumlah cerita mitos yang berkembang di tengah masyarakat.
Kisah mengenai makam tersebut diceritakan dalam sebuah vlog yang menampilkan perjalanan menuju kompleks pemakaman Ngujang. Dalam perjalanan itu, pembuat vlog menyebut dirinya sengaja datang untuk berziarah ke makam Ujang setelah cukup lama tidak membuat konten mengenai tempat tersebut.
Ia juga mengungkapkan sejumlah cerita yang sejak kecil pernah didengarnya mengenai kawasan makam. Namun, cerita tersebut ditegaskan sebagai mitos yang tingkat kebenarannya tidak dapat dipastikan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian di kawasan tersebut adalah keberadaan kera. Hewan-hewan itu terlihat berada di sekitar kompleks pemakaman dan menjadi bagian dari suasana yang ditemui pengunjung.
Ada pula cerita mengenai kebiasaan memberi makan kera berdasarkan kelompok atau pemimpinnya. Namun, penjelasan tersebut disampaikan sebagai cerita yang ia ketahui dari lingkungan sekitar, bukan sebagai fakta yang telah dibuktikan.
Kompleks pemakaman Ngujang sendiri disebut sebagai pemakaman umum bagi warga sekitar. Meski berfungsi sebagai pemakaman, kawasan tersebut telah digunakan sebagai tempat wisata sejak sebelum pandemi.
Baca Juga: Dihina Keluarga, Pak Agun Nekat Ikuti Pesugihan hingga Mengaku Alami Kejadian Mencekam
Suasana di dalam kompleks makam digambarkan cukup sejuk. Pemandangan di sekitar makam juga disebut lumayan bagus meskipun kawasan tersebut merupakan area pemakaman.
Salah satu cerita yang berkaitan dengan orang yang mencari pesugihan. Dalam cerita yang berkembang, terdapat seseorang yang disebut menjalani ritual pesugihan hingga mengorbankan anak atau keturunannya. Setelah itu, muncul kisah mengenai kera yang dikaitkan dengan cerita tersebut.
Cerita kedua disebut memiliki nuansa sejarah, tetapi tetap ditekankan sebagai mitos. Kisah itu berkaitan dengan anak-anak yang bermain di kawasan tersebut.
Dalam cerita tersebut, anak-anak disebut tetap bermain ketika seharusnya mengikuti kegiatan salat di pondok. Mereka tidak menghiraukan panggilan guru maupun waktu untuk beribadah.
Anak-anak yang tetap bermain itu kemudian dikaitkan dengan cerita mengenai kera di kawasan makam. Namun, pembuat konten video kembali menegaskan bahwa cerita tersebut merupakan mitos dengan kebenaran yang sangat sulit dipertanggungjawabkan.
Penegasan itu menjadi penting karena cerita mengenai suatu tempat dapat berkembang dari generasi ke generasi. Dalam kasus makam Ujang, cerita yang beredar menjadi bagian dari kisah yang menyertai keberadaan kompleks pemakaman tersebut.
Di sisi lain, keberadaan kera dan aktivitas pengunjung memberikan suasana tersendiri. Pengunjung dapat melihat kera di sekitar makam dan memberikan makanan seperti kacang atau pisang.
Pembuat konten juga sempat berinteraksi dengan warga atau penjual di sekitar kawasan makam. Ia membeli minuman serta kacang sebelum melanjutkan perjalanan ke dalam kompleks.
Meski banyak cerita mistis yang berkembang, informasi yang disampaikan dalam vlog tersebut tidak menempatkan mitos sebagai fakta. Cerita tentang pesugihan maupun asal-usul kera secara jelas disebut sebagai mitos yang tingkat kebenarannya tidak dapat dipastikan.
Makam Ujang Tulungagung akhirnya memiliki daya tarik dari dua sisi. Selain menjadi pemakaman umum warga Ngujang, tempat itu dikenal sebagai kawasan yang pernah dimanfaatkan sebagai lokasi wisata. Suasana yang teduh, keberadaan kera, serta cerita-cerita masyarakat membuat kawasan tersebut memiliki kisah tersendiri bagi pengunjung.
Kunjungan itu sekaligus menjadi kesempatan untuk kembali melihat kawasan makam yang telah lama tidak ia kunjungi. Ia menikmati suasana sekitar sembari menceritakan kembali mitos yang pernah didengarnya sejak kecil.
Dengan demikian, cerita tentang Makam Ujang tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari kisah atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Mitos-mitos tersebut tidak disampaikan sebagai fakta yang telah terbukti, melainkan sebagai cerita yang melekat pada kawasan pemakaman Ngujang.
Editor : Syarifatul InsaniyahSumber : Diolah dari berbagai sumber