MANGGARAI TIMUR - Gempa Flores M 7,7 masih memicu gempa susulan dan membuat ribuan warga bertahan di pengungsian. Di Kabupaten Manggarai Timur, sebanyak 13.909 pengungsi tercatat berada di wilayah Kota Kecamatan Sambi Rampas.
Penanganan warga terdampak dilakukan melalui satu posko induk dan 492 posko mandiri yang tersebar di enam desa dan empat kelurahan. Pemerintah setempat masih berupaya memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Kontributor TVRI di Kabupaten Manggarai Timur, Paul Tengko, melaporkan kebutuhan utama warga saat ini adalah air minum bersih, beras, serta kebutuhan pokok lainnya.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur sebelumnya telah menyalurkan bantuan berupa 5 ton beras untuk masyarakat terdampak di enam desa dan empat kelurahan. Namun, bantuan tersebut disebut telah habis dibagikan ke sejumlah posko pengungsian.
Selain persoalan kebutuhan logistik, gempa juga menyebabkan kerusakan rumah dan fasilitas umum. Berdasarkan data dari pihak kecamatan yang disampaikan dalam laporan tersebut, terdapat 1.658 rumah mengalami kerusakan.
Rinciannya, 1.123 rumah disebut mengalami rusak berat, sedangkan 433 rumah mengalami rusak ringan. Gempa juga dilaporkan menyebabkan enam orang meninggal dunia, 38 orang mengalami luka berat, dan 41 orang mengalami luka ringan.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum. Sebanyak 105 fasilitas dilaporkan terdampak, di antaranya puskesmas, sekolah, tempat ibadah, serta jalan yang mengalami retak.
Jaringan Komunikasi Masih Jadi Kendala
Pendataan kerusakan masih dilakukan oleh pemerintah kecamatan dan pemerintah desa. Namun, proses tersebut menghadapi kendala karena jaringan komunikasi di ibu kota Kecamatan Sambi Rampas masih belum lancar.
Baca Juga: Fenomena Kafe Estetik di Tulungagung
Kondisi itu membuat penyampaian data dari wilayah terdampak kepada pemerintah kabupaten tidak berjalan optimal. Pemerintah kecamatan dan desa pun masih melakukan pendataan secara bertahap.
Di tengah gempa susulan yang masih terjadi, masyarakat diimbau tetap berada di posko pengungsian hingga memperoleh informasi bahwa kondisi sudah aman.
Perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok rentan, seperti lansia dan balita. Kebutuhan lansia di posko disebut sudah terpenuhi. Sementara kebutuhan balita masih mengalami kekurangan, terutama popok, susu, air minum, dan tenda.
Wilayah yang paling terdampak di Kabupaten Manggarai Timur disebut berada di Kecamatan Lambaleda Utara dan Kecamatan Sambi Rampas. Pemerintah daerah telah turun ke sejumlah posko untuk melihat kondisi masyarakat.
Nagekeo Catat 28.104 Pengungsi
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Nagekeo. Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Mugasada menyebut pusat gempa berada di wilayah Kabupaten Nagekeo dengan kekuatan M 7,7.
Baca Juga: Tembang Macapat dan Tahapan Hidup Manusia, dari Lahir hingga Kembali
Menurutnya, gempa susulan telah terjadi lebih dari 2.000 kali. Dalam laporan tersebut, gempa susulan dengan kekuatan 5,7 disebut kembali terjadi pada pukul 10.57.
Jumlah korban meninggal dunia di Nagekeo disebut meningkat menjadi 10 orang. Sebelumnya, dua hari sebelum wawancara dilakukan, jumlah korban meninggal tercatat delapan orang.
Selain korban meninggal, tercatat 13 orang mengalami luka ringan dan 13 orang mengalami luka berat. Sementara jumlah pengungsi mencapai 28.104 orang yang tersebar di tujuh kecamatan.
Untuk kerusakan rumah, pemerintah daerah mencatat 7.430 unit masuk kategori rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat. Tim dari PUPR telah berada di lapangan untuk memastikan tingkat kerusakan.
Tenaga ahli Kepala BNPB, Oka Prawira, mengatakan pemerintah pusat melakukan pendampingan terhadap pemerintah daerah selama fase tanggap darurat. Posko tanggap darurat juga telah dibentuk untuk memperjelas pembagian tugas dalam penanganan bencana.
Kebutuhan mendesak warga Nagekeo meliputi makanan siap saji, obat-obatan, serta perlengkapan untuk bayi, ibu hamil, dan lanjut usia. Untuk kebutuhan jangka menengah, warga masih membutuhkan tenda dan tempat tidur.
Pemerintah juga terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar memahami kondisi gempa dan tidak terpengaruh informasi bohong yang beredar di media sosial. Warga diharapkan tetap mengikuti informasi resmi selama gempa susulan masih terjadi.
Editor : Maylanni Diana Fitri