NAGEKEO - Gempa NTT bermagnitudo 5,2 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu pagi. Gempa berpusat 54 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dan dirasakan hingga Kabupaten Sikka.
Guncangan membuat sejumlah warga panik. Pegawai di kantor Koperasi Pintu Air, Kabupaten Sikka, bahkan berhamburan keluar gedung untuk menyelamatkan diri ke tempat terbuka.
Kepanikan juga terjadi di Rumah Sakit Santo Gabriel, Kewapante. Sejumlah pasien yang sedang menjalani perawatan di tenda darurat ikut merasakan guncangan.
Tim medis kemudian berupaya menenangkan pasien yang berada di lokasi. Kondisi tersebut terjadi di tengah rangkaian gempa susulan yang masih dirasakan warga NTT.
Selain gempa bermagnitudo 5,2, tercatat sembilan gempa susulan terjadi di wilayah Nagekeo. Warga memilih beraktivitas di luar rumah atau gedung karena masih khawatir terhadap kemungkinan guncangan berikutnya.
Gempa Susulan Masih Terasa
Florentina Nena, warga Mbay, Nagekeo, mengatakan gempa susulan masih terasa hingga pagi, siang, bahkan sore hari. Kondisi itu membuat warga memilih tidak kembali beraktivitas seperti biasa di dalam rumah.
Baca Juga: Bahasa Jawa Makin Jarang Dipahami, Istilah Danyang hingga Dang Hyang Jadi Sorotan
Florentina menyebut dirinya dan warga sekitar masih beraktivitas di luar rumah. Selama beberapa hari, ia juga memilih tidur di lapangan karena bangunan rumah yang ditempatinya tidak sepenuhnya membuat warga merasa aman.
“Kekuatan gempa susulan saat ini yang kami rasakan memang cukup kuat, tetapi tidak seperti yang terjadi di tanggal 15 Agustus kemarin,” ujar Florentina dalam wawancara dengan Metro TV.
Ia mengatakan warga masih terus merasakan gempa susulan meski kekuatannya bervariasi. Warga yang rumahnya permanen masih banyak memilih beraktivitas di luar karena trauma.
Sementara warga yang menempati bangunan nonpermanen sudah kembali beraktivitas di dalam rumah. Namun, mereka tetap diminta waspada karena gempa susulan masih terjadi.
Data BMKG yang disampaikan dalam tayangan tersebut mencatat 2.768 kali gempa. Magnitudo terbesar mencapai 6,2, sedangkan yang terkecil 1,1.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 24 gempa memiliki magnitudo di atas 5. Sementara gempa susulan yang dirasakan warga tercatat sebanyak 81 kali.
Flores Back Thrust Jadi Perhatian
Peneliti ahli muda Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sony Ariwibowo, menjelaskan gempa utama memiliki magnitudo 7,7. Gempa susulan kemudian terjadi sebagai bagian dari proses penstabilan kerak di wilayah Flores.
Baca Juga: Plt Bupati Ahmad Baharudin Melantik Pimpinan BAZNAS Tulungagung Periode 2026-2031
Menurut Sony, banyaknya gempa susulan dipengaruhi panjang Flores Back Thrust yang mencapai sekitar 200 kilometer. Gempa susulan dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
Namun, tidak ada ukuran pasti mengenai kapan rangkaian gempa susulan akan berhenti. Karena itu, masyarakat diminta terus mengikuti informasi dari BMKG.
Sony juga mengingatkan kondisi bangunan menjadi salah satu hal yang harus mendapat perhatian utama. Setelah gempa besar, struktur bangunan di sejumlah wilayah Flores disebut sudah tidak utuh.
Masyarakat disarankan tidak terburu-buru kembali ke rumah, terutama apabila kondisi bangunan belum dinyatakan aman. Warga diminta mengikuti instruksi BMKG dan BNPB.
Menurut Sony, Flores Back Thrust merupakan salah satu sesar yang cukup aktif di Indonesia. Ancaman gempa dari sumber tersebut tetap ada sehingga kesiapsiagaan masyarakat perlu terus diperkuat.
Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak juga dihentikan sementara. Berdasarkan keterangan Florentina, masa tanggap darurat berlangsung selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.
Meski pembelajaran tatap muka dihentikan, guru tetap terhubung dengan peserta didik melalui Google Formulir untuk memberikan tugas secara daring.
Untuk kebutuhan dasar, Florentina mengatakan makanan, alas tidur, dan sanitasi sementara terpenuhi. Bantuan juga datang dari pemerintah serta sejumlah lembaga kemasyarakatan.
Sony menegaskan pembangunan infrastruktur tahan gempa dibutuhkan di wilayah rawan bencana. Sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan juga dinilai penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi gempa.
Editor : Maylanni Diana Fitri