NAGEKEO - Gempa NTT kembali mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Gempa bermagnitudo 5,2 itu berpusat 54 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dan dirasakan warga hingga Kabupaten Sikka.
Guncangan gempa membuat sejumlah warga panik. Pegawai di kantor Koperasi Pintu Air, Kabupaten Sikka, terlihat berlarian keluar gedung untuk menyelamatkan diri.
Kepanikan juga dirasakan pasien di Rumah Sakit Santo Gabriel, Kewapante. Sejumlah pasien yang menjalani perawatan di tenda darurat ikut panik ketika gempa terjadi.
Tim medis kemudian berusaha menenangkan pasien. Situasi tersebut berlangsung ketika gempa susulan masih terus terjadi di wilayah Nagekeo dan sekitarnya.
Tercatat sembilan gempa susulan terjadi di Nagekeo. Warga memilih berada di luar rumah dan gedung karena masih khawatir terhadap guncangan berikutnya.
Warga Masih Beraktivitas di Luar Rumah
Florentina Nena, warga Mbay, Nagekeo, mengatakan gempa susulan masih terasa hingga pagi, siang, dan sore. Warga pun masih memilih beraktivitas di luar rumah.
Baca Juga: Plt Bupati Ahmad Baharudin Melantik Pimpinan BAZNAS Tulungagung Periode 2026-2031
Florentina menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung beberapa hari. Ia bersama warga lainnya bahkan memilih tidur di lapangan karena khawatir terhadap kondisi bangunan.
“Untuk kami sementara beraktivitas di luar rumah,” kata Florentina dalam wawancara yang ditayangkan Metro TV.
Menurut Florentina, kekuatan gempa susulan yang dirasakan warga masih cukup kuat. Namun, guncangannya tidak sebesar gempa yang terjadi pada 15 Agustus.
Warga yang tinggal di rumah permanen masih banyak yang memilih berada di luar. Trauma akibat gempa membuat mereka belum berani kembali beraktivitas secara normal di dalam rumah.
Sementara itu, warga yang menempati bangunan nonpermanen mulai kembali beraktivitas di dalam rumah. Meski begitu, kewaspadaan tetap dijaga karena gempa susulan masih berlangsung.
Data BMKG yang disampaikan dalam tayangan tersebut menunjukkan terdapat 2.768 kali gempa. Magnitudo gempa tercatat bervariasi, mulai 1,1 hingga yang terbesar 6,2.
Sebanyak 24 gempa tercatat memiliki magnitudo di atas 5. Sementara itu, gempa susulan yang dirasakan masyarakat mencapai 81 kali.
Flores Back Thrust dan Risiko Gempa Susulan
Peneliti ahli muda Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sony Ariwibowo, menjelaskan gempa utama memiliki magnitudo 7,7. Menurutnya, gempa susulan merupakan bagian dari proses penstabilan kerak di wilayah Flores.
Baca Juga: Waduk Ranu Kumbolo Tulungagung Punya Spot Sunset hingga Cerita Mistis
Sony mengatakan panjang Flores Back Thrust yang mencapai sekitar 200 kilometer turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi banyaknya gempa susulan.
Gempa susulan dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Namun, tidak ada waktu pasti untuk menentukan kapan seluruh rangkaian gempa tersebut akan berhenti.
Karena itu, masyarakat diminta terus mengikuti perkembangan informasi dari BMKG. Data kegempaan dan perkembangan aktivitas gempa akan menjadi dasar dalam menentukan tingkat kewaspadaan.
Sony juga menyoroti kondisi bangunan setelah gempa besar. Menurutnya, sebagian struktur bangunan di Flores sudah tidak utuh sehingga masyarakat perlu memperhatikan keselamatan sebelum kembali masuk ke rumah.
Warga diminta mengikuti arahan BMKG dan BNPB selama masa tanggap darurat. Masyarakat juga diingatkan tidak memaksakan diri masuk ke bangunan yang kondisinya belum dipastikan aman.
Di sisi lain, aktivitas pendidikan di wilayah terdampak turut dihentikan sementara. Florentina menyebut masa tanggap darurat bencana berlangsung selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.
Selama pembelajaran tatap muka dihentikan, guru tetap berkomunikasi dengan siswa melalui Google Formulir. Tugas diberikan secara daring agar proses pembelajaran tetap berjalan.
Untuk kebutuhan dasar, Florentina mengatakan bantuan makanan, alas tidur, dan kebutuhan sanitasi sementara terpenuhi. Bantuan datang dari pemerintah dan sejumlah lembaga kemasyarakatan.
Sony menilai pembangunan bangunan tahan gempa perlu menjadi perhatian di wilayah rawan bencana. Sistem peringatan dini serta edukasi kebencanaan juga diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa.
Editor : Maylanni Diana Fitri