NTT - Gempa susulan NTT kembali mengguncang sejumlah wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis, 20 Agustus 2026. Guncangan membuat warga panik dan berhamburan keluar dari rumah maupun tenda pengungsian.
BMKG mencatat dua gempa susulan terjadi pada Kamis pagi. Gempa pertama berkekuatan magnitudo 5,8 terjadi pukul 05.45.20 WIB dengan kedalaman 10 kilometer.
Guncangan gempa pertama dirasakan di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Sikka. Beberapa jam kemudian, gempa susulan kembali terjadi dengan magnitudo 5,7 pada pukul 09.47 WIB.
Gempa kedua memiliki kedalaman 10 kilometer. Getarannya dirasakan di Manggarai, Nagekeo, Manggarai Barat, Sumba Timur, dan Sikka.
BMKG memastikan kedua gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Rangkaian guncangan itu merupakan gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Hingga Kamis pagi, tercatat 3.489 aktivitas gempa susulan. Magnitudo terbesar dalam rangkaian gempa susulan tersebut mencapai 6,2.
Guncangan yang terus berulang membuat sebagian warga memilih tetap berada di luar rumah. Mereka mendirikan tenda mandiri di halaman rumah karena masih trauma dan khawatir terjadi gempa ketika sedang tidur.
Warga Masih Trauma
Di Kabupaten Nagekeo, sejumlah warga memilih membuat tenda di depan rumah masing-masing. Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan rumah karena khawatir terjadi pencurian apabila rumah ditinggalkan dalam kondisi kosong.
Baca Juga: Gempa Flores M 5,8 Kembali Mengguncang Manggarai, Warga Berhamburan
Jumlah pengungsi di Nagekeo disebut mencapai sekitar 6.221 orang yang tersebar di 70 titik pengungsian. Bantuan makanan dan kebutuhan logistik terus berdatangan ke wilayah tersebut.
Namun, kebutuhan bayi dan lansia masih menjadi perhatian. Pengungsi membutuhkan susu, popok, alas tidur, dan selimut.
Kebutuhan tersebut dinilai penting karena kondisi udara pada malam hari cukup dingin. Sejumlah tenda mandiri warga juga masih menggunakan terpal sebagai alas.
Situasi serupa terjadi di Posko Pengungsian Gelora Samador, Maumere, Kabupaten Sikka. Pengungsi langsung berhamburan keluar ketika merasakan gempa susulan.
Sebagian besar pengungsi di lokasi tersebut merupakan lansia, perempuan, dan anak-anak. Trauma akibat gempa utama membuat mereka masih waspada terhadap setiap guncangan.
Bantuan Terus Dikirim
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah dan sejumlah unsur terkait terus mempercepat distribusi bantuan. Posko Aju 1 Labuhan Bajo menjadi salah satu pusat distribusi bantuan untuk wilayah terdampak.
Baca Juga: Gempa NTT Magnitudo 5,2 Bikin Warga Panik, 9 Gempa Susulan Terjadi
Sekitar 186,6 ton logistik telah masuk ke posko tersebut. Bantuan terdiri atas kebutuhan pokok, perlengkapan bayi dan balita, kebutuhan ibu hamil, makanan, minuman, beras, gula, minyak, hingga lampu penerangan.
TNI Angkatan Udara juga mengirimkan 42 ton bantuan dari Posko TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Pengiriman dilakukan menggunakan pesawat A400, Hercules, dan Boeing.
Bantuan tersebut kemudian diarahkan menuju Bandara Komodo dan Bandara Maumere untuk selanjutnya didistribusikan ke sejumlah wilayah yang membutuhkan.
Di Posko Pengungsian Gelora Samador, distribusi bantuan sempat membuat suasana riuh. Sejumlah pengungsi berebut mendapatkan bantuan karena khawatir tidak kebagian.
Petugas kemudian mengimbau warga tetap tenang. BNPB menyatakan ketersediaan logistik untuk pengungsi dijamin aman dan mencukupi.
Sementara itu, tim SAR gabungan terus melakukan evakuasi medis dan penyisiran di wilayah terdampak. Penanganan diprioritaskan bagi kelompok rentan, termasuk lansia dan ibu hamil yang mengalami trauma akibat gempa.
Kepala BNPB Suharanto meminta masyarakat tidak panik menghadapi gempa susulan. Warga diminta tetap waspada dan memahami setiap guncangan secara proporsional.
Menurut Suharanto, gempa susulan masih dapat terjadi dalam dua hingga tiga minggu setelah gempa utama. Namun, masyarakat diimbau tidak menganggap setiap guncangan sebagai ancaman yang harus dihadapi dengan kepanikan.
Warga yang rumahnya mengalami kerusakan juga diminta tidak kembali masuk sebelum bangunan dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Editor : Maylanni Diana Fitri