Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Tembus 9.000, Ekonomi Indonesia Disebut Masuk Fase Pembalikan Arah, Sinyal Kuat Tren Positif 2026

Vidya Sajar Fitri • Jumat, 9 Januari 2026 | 10:35 WIB

 

IHSG tembus 9.000 jadi sinyal pembalikan arah ekonomi Indonesia.(freepik.com/dcstudio)
IHSG tembus 9.000 jadi sinyal pembalikan arah ekonomi Indonesia.(freepik.com/dcstudio)

RADAR TULUNGAGUNG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencuri perhatian pelaku pasar setelah sempat menembus level psikologis 9.000 pada awal 2026.

Pencapaian tersebut memperkuat optimisme bahwa ekonomi Indonesia telah memasuki fase pembalikan arah dan berada di jalur pertumbuhan yang lebih solid sepanjang tahun ini.

IHSG yang terus menguat menjadi cerminan sentimen positif investor terhadap kondisi makroekonomi nasional.

Dalam beberapa hari perdagangan terakhir, IHSG bergerak stabil di level tinggi, menandakan kepercayaan pasar mulai pulih, baik dari investor domestik maupun asing.

Momentum ini dinilai sejalan dengan perbaikan sejumlah indikator fundamental ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan tren meningkat.

Pada kuartal pertama, ekonomi tumbuh sekitar 4,87 persen, kemudian meningkat menjadi 5,1 persen di kuartal berikutnya.

Memasuki kuartal ketiga, pertumbuhan diperkirakan kembali menguat, bahkan pada kuartal keempat diproyeksikan berada di kisaran 5,4 persen jika tidak terjadi perubahan signifikan pada kondisi global.

Inflasi Terkendali, Fondasi Ekonomi Makin Kuat

Salah satu faktor utama yang menopang optimisme pasar adalah inflasi yang masih terjaga.

Tingkat inflasi nasional tercatat di kisaran 2,92 persen, masih berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Kondisi ini memberikan ruang yang cukup bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.

Inflasi yang terkendali menjadi sinyal penting bahwa daya beli masyarakat relatif stabil.

Hal ini juga memperkuat keyakinan investor bahwa risiko overheating ekonomi masih dapat dikelola dengan baik di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

Surplus Perdagangan Jadi Penopang Optimisme

Dari sisi eksternal, kinerja neraca perdagangan Indonesia mencatatkan capaian positif.

Hingga November, surplus perdagangan mencapai sekitar 38,5 miliar dolar AS atau tumbuh lebih dari 31 persen secara tahunan.

Angka ini menunjukkan ketahanan sektor eksternal Indonesia meski tekanan ekonomi global masih berlangsung.

Surplus perdagangan yang kuat membuktikan bahwa kinerja ekspor nasional tetap kompetitif.

Kondisi ini sekaligus menjadi bantalan penting bagi perekonomian domestik, sehingga dampak gejolak global tidak sepenuhnya berdampak negatif terhadap Indonesia.

PMI Manufaktur Masih di Zona Ekspansi

Indikator lain yang turut memperkuat optimisme adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur.

Pada Desember, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 51,2 persen, masih di atas ambang batas 50 yang menandakan fase ekspansi.

Meski sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya, penurunan ini dinilai wajar karena faktor libur akhir tahun yang biasanya menekan aktivitas produksi.

Pelaku pasar meyakini PMI Manufaktur berpotensi kembali menguat seiring meningkatnya aktivitas ekonomi pada awal 2026.

Yield SBN Turun, Kepercayaan Pasar Menguat

Dari pasar obligasi, tren penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga menjadi kabar baik.

Yield SBN tercatat turun hingga ke level sekitar 6 persen, turun lebih dari 100 basis poin dibandingkan akhir 2024.

Penurunan yield ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap pengelolaan fiskal dan stabilitas ekonomi Indonesia.

Bagi pemerintah, kondisi tersebut berdampak positif karena biaya penerbitan utang menjadi lebih murah dibandingkan tahun sebelumnya.

IHSG Jadi Cerminan Sentimen Investor

Kinerja IHSG sepanjang 2025 juga mencatatkan kenaikan signifikan. Indeks ditutup di kisaran 8.600-an pada akhir tahun lalu, melonjak lebih dari 22 persen secara tahunan.

Memasuki 2026, tren penguatan tersebut dinilai masih berpeluang berlanjut.

Sentimen positif yang kembali ke pasar modal menunjukkan investor mulai melihat hasil nyata dari berbagai kebijakan dan program pembangunan yang dijalankan pemerintah.

Meski dampaknya belum sepenuhnya terasa, arah perbaikan ekonomi dinilai sudah jelas terlihat.

Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang membaik, inflasi terkendali, surplus perdagangan yang kuat, serta stabilitas pasar keuangan, Indonesia dinilai memiliki modal penting untuk menjaga tren positif sepanjang 2026.

Pencapaian IHSG yang menembus 9.000 menjadi simbol kembalinya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.***

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#ihsg #ekonomi indonesia 2026 #inflasi indonesia #pertumbuhan ekonomi #pasar modal