
Oleh : Rizky Sembada S.E. M.M.M.Psi
Waktu begitu cepat berjalan hingga tanpa terasa pendaftaran KPU untuk para bakal calon pimpinan daerah sudah di ambang mata. Akhir akhir ini banyak manuver politik yang terjadi di kalangan llit lintas partai. Ada upaya upaya dari kaalisi KIM PLUS yang disinyalir akan banyak melahirkan Pilkada di banyak aaerah yang memiliki 1 pasangan calon dan melawan kotak kosong.
Sungguh kemunduran sebuah demokrasi yang seolah mencerminkan bahwa percaturan politik saat ini merupakan permainan segilitir elit belaka.
Konon sebuah demokrasi yang memberikan kedaulatan di tangan rakyat kini hanya menjadi dongen penghantar tidur yang kemudian terbawa dalam mimpi di tidur panjang yang tak bertepi. Yah demokrasi yang dikisahkan sebuah kedaulatan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat hanya tercipta di negara Republik Mimpi.
Terlepas dari semua hal di atas kali ini oenulis Ingin mengangkat Pilkada 2024 dari potensi generasi Z yang cukup mendominasi perhelatan Bacakada di tahun ini.
Generasi Z adalah mereka golongan yang terlahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Kehadiran mereka ini membawa perubahan yang cukup signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ranah politik.
Generasi Z dikenal sebagai generasi digital native, yaitu generasi yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka sangat familiar dengan internet, media sosial, dan perangkat digital. Kemampuan mereka untuk mengakses informasi dengan cepat dan luas memberikan mereka keunggulan dalam memahami isu-isu politik dan sosial. Generasi Z mampu memanfaatkan platform-platform ini untuk menyebarkan informasi tentang calon, memobilisasi dukungan, dan menggalang opini publik dan berbagai Aktivitas kampanye digital lainya.
Mereka mampu membentuk opini publik dan memengaruhi pandangan masyarakat terhadap kandidat.
Generasi Z sering dianggap sebagai agen perubahan dalam masyarakat. Mereka di harapkan mampu melakukan inovasi politik. Dengan mendukung calon yang mewakili nilai-nilai progresif, mereka berperan dalam membentuk arah kepemimpinan dan pembangunan. Secara umum Generasi Z cenderung lebih kritis terhadap informasi politik yang mereka terima.
Mereka tidak mudah dipengaruhi oleh narasi politik konvensional dan cenderung mencari informasi dari berbagai sumber sebelum membuat keputusan politik. Keterampilan ini membantu mereka menjadi pemilih yang lebih berpikir kritis dan terinformasi. Disisi lain Generasi Z memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Banyak dari Generasi Z yang memiliki akses ke pendidikan tinggi dan informasi yang lebih luas, sehingga mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya partisipasi politik dan demokrasi. Salah satu tokoh pakar politik dunia yang menyikapi generasi Z dengan cermat adalah Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Meskipun lebih dikenal sebagai tokoh teknologi daripada tokoh politik, Zuckerberg telah menunjukkan pemahaman yang dalam tentang bagaimana generasi Z berinteraksi dengan dunia, termasuk dalam konteks politik.
Zuckerberg memahami bahwa generasi Z adalah generasi yang tumbuh dengan teknologi digital dan media sosial sebagai bagian penting dari kehidupan mereka. Dia menyadari bahwa platform-media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp memiliki peran yang signifikan dalam membentuk opini, memobilisasi dukungan, dan menyebarkan informasi politik di antara generasi Z.
Selain itu, Zuckerberg juga mengakui bahwa generasi Z cenderung memiliki pandangan yang berbeda tentang isu-isu sosial dan politik dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka lebih terbuka terhadap keragaman, inklusivitas, dan keadilan sosial.
Tingkat kepedulian Generasi Z cukup tinggi terhadap isu-isu sosial dan politik. Generasi Z cenderung lebih progresif dan peduli terhadap perubahan sosial yang positif, seperti isu lingkungan, hak asasi manusia, dan keadilan sosial. Hal ini tercermin dari partisipasi aktif mereka dalam berbagai gerakan sosial, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Dalam konteks Pilkada 2024, antusiasme dan kepedulian Generasi Z dapat menjadi pendorong partisipasi politik yang lebih besar. Mereka memiliki potensi untuk menjadi pemilih yang kritis dan aktif dalam proses demokrasi, serta mampu mempengaruhi teman sebaya dan keluarga mereka untuk turut serta dalam pemilihan. Generasi Z juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam komunitas dan keluarga mereka. Sebagai generasi yang lebih melek teknologi dan informasi, mereka sering menjadi sumber informasi bagi orang tua dan anggota keluarga lainnya. Dalam Pilkada 2024, peran ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan partisipasi politik di kalangan pemilih yang lebih tua.
Generasi Z dapat berperan sebagai agen perubahan ( Agent of Change). Dengan demikian, partisipasi politik tidak hanya meningkat di kalangan pemilih muda, tetapi juga di kalangan pemilih dari berbagai kelompok umur.
Meskipun Generasi Z memiliki potensi besar dalam mensukseskan Pilkada namun dalam satu sisi sebenarnya ada hal mendasar yang juga Memiliki pengaruh buruk terhadap demokrasi yaitu *Apatisme politik,*rasa kecenderungan untuk tidak peduli atau tidak tertarik pada politik yang memang disebabkan oleh janji politik yang sering kali tidak terealisasi.
Maka peran Geberadi Z dalam Pilkada 2024 akan menjadi langkah penting menuju perubahan pembangunan bangsa yang lebih baik.
Generasi Z diharapkan mampu mendorong partisipasi menjadi para agen yang memberikan dampak positif dalam memperkuat demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Sebagai representasi dari generasi yang masih muda, generasi Z mewakili aspirasi dan kebutuhan kelompok ini dalam proses politik. Mereka membawa perspektif yang berbeda, terutama dalam isu-isu seperti pendidikan, pekerjaan, lingkungan, dan hak asasi manusia. Keterwakilan ini penting dalam memastikan bahwa suara generasi muda didengar dan diwakili dalam pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan.
Dari pembahasan diatas kita mampu memahami bahwa peran generasi Z dan milenial dalam Pilkada sangat penting dan signifikan dalam dinamika politik. Partisipasi aktif mereka, baik dalam kampanye digital maupun keterlibatan politik dan sosial di tingkat lokal, membawa dampak yang positif dalam memperkuat demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang baik. Penting bagi pihak-pihak terkait untuk memahami peran dan aspirasi generasi Z ini dalam rangka membangun masyarakat yang lebih inklusif, dinamis, dan berkelanjutan tentunya hal ini tidak terlepas dari pengikut sertaan pemahaman spiritual yang baik bagi Generasi Z tersebut.(*)



