JAKARTA - Isu mengenai aliran Syiah seringkali memicu perdebatan panas di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Banyak pertanyaan muncul mengenai apakah semua penganut Syiah dapat dikategorikan sebagai sesat atau kafir. Menanggapi hal ini, pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, memberikan penjelasan mendalam dan tegas untuk meluruskan persepsi masyarakat agar tidak terjebak dalam kebingungan informasi.
Menurut Buya Yahya, penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa terminologi Syiah memiliki spektrum yang luas jika dilihat dalam konteks global. Namun, kondisi ini sangat berbeda ketika berbicara mengenai konteks spesifik di tanah air. Beliau menekankan bahwa masyarakat harus waspada terhadap upaya-upaya yang mencoba mengaburkan fakta mengenai karakteristik dominan Syiah di Indonesia dengan dalih keberagaman sekte.
Baca Juga: Mengapa Iran Menjadi Syiah? Jejak Dinasti Safawi dan Perubahan Mazhab di Persia
Perbedaan Syiah di Indonesia dan Dunia
Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengakui bahwa secara global terdapat berbagai macam sekte Syiah, seperti Syiah Zaidiyah yang banyak ditemukan di Yaman. Syiah Zaidiyah dikenal memiliki pemahaman yang lebih dekat dengan Ahlussunnah Wal Jamaah (Sunni). Mereka tidak mengkafirkan sahabat Nabi dan tetap memuliakan Sayyidina Abu Bakar Ash-Siddiq serta Sayyidina Umar Bin Khattab.
"Kalau kita bicara Syiah di dunia, memang tidak semuanya sesat. Contohnya Syiah Zaidiyah di Yaman, mereka bisa hidup berdampingan dengan kaum Sunni. Namun, Syiah di Indonesia lain ceritanya. Syiah yang ada di Indonesia mayoritas adalah satu warna, yaitu Syiah Imamiyah Itna Asyariyah atau Jafariyah," tegas Buya Yahya.
Baca Juga: Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Ini Jejak Kepemimpinan dan Pengaruhnya di Iran
Beliau memperingatkan agar masyarakat tidak tertipu oleh narasi yang menyebutkan bahwa Syiah di Indonesia itu bermacam-macam. Menurutnya, kelompok Syiah yang berkembang pesat di Indonesia memiliki ciri khas yang sangat kontras dengan akidah Sunni, terutama dalam cara mereka memandang para sahabat Nabi dan istri-istri Rasulullah SAW.
Ciri Khas Syiah di Indonesia
Lebih lanjut, Buya Yahya membedah karakteristik utama Syiah di Indonesia yang perlu diwaspadai. Salah satu poin yang paling krusial adalah sikap mereka terhadap sahabat Nabi. Beliau menyebutkan bahwa kelompok ini seringkali mencaci maki Sayyidina Umar Bin Khattab dan Sayyidina Abu Bakar, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi melalui literatur mereka.
Selain itu, mereka juga kerap melontarkan tuduhan keji terhadap istri Rasulullah, Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Hafsah RA. "Ini yang ada di Indonesia, tidak usah ditutupi. Mereka yang mengkafirkan sahabat dan mencaci maki Siti Aisyah adalah realita yang ada. Bahkan, mereka juga membolehkan praktik nikah mut'ah yang jelas-jelas dilarang dalam ajaran Ahlussunnah," tambahnya.
Buya Yahya juga menyoroti definisi "Nasibi" versi kelompok ini. Jika dalam Sunni Nasibi adalah orang yang membenci Ahlul Bait (keluarga Nabi), maka dalam pandangan mereka, Nasibi adalah siapa pun yang mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar. Dengan definisi tersebut, mayoritas umat Islam di Indonesia secara otomatis dianggap sebagai musuh oleh ideologi mereka.
Sikap Terhadap Perawi Syiah dalam Sahih Bukhari
Menjawab keraguan mengenai adanya perawi Syiah dalam kitab Sahih Bukhari, Buya Yahya menjelaskan dengan kaidah ilmu hadis yang ketat. Beliau meluruskan bahwa label "Syiah" pada masa lalu seringkali disematkan kepada orang-orang yang sangat mencintai dan menyanjung Imam Ali Bin Abi Thalib, namun tetap mengakui kebenaran sahabat lainnya.
"Imam Bukhari tidak mengambil riwayat dari Syiah yang mengkafirkan sahabat. Ada pembagian jelas dalam ilmu hadis: apakah ahli bidah tersebut menyeru pada bidahnya atau apakah bidahnya menyebabkan kekafiran. Jika ia hanya menyanjung Imam Ali, maka itu bukan Syiah dalam definisi sesat yang kita bicarakan sekarang. Kita semua juga mencintai Imam Ali, beliau adalah Imam kita semua di Ahlussunnah," jelasnya.
Sebagai penutup, Buya Yahya berpesan agar umat Islam tetap mengedepankan kelembutan dalam berdakwah. Beliau mengajak masyarakat untuk merangkul saudara-saudara yang mungkin tidak sengaja terbawa aliran tersebut karena ketidaktahuan. Dakwah harus dilakukan dengan diskusi yang baik tanpa harus mengobarkan peperangan, namun tetap tegas dalam menjaga akidah yang benar yaitu mencintai Ahlul Bait sekaligus memuliakan seluruh Sahabat Nabi.
Editor : Divka Vance Yandriana