KOTA BLITAR - Terlahir dari keluarga berpendidikan menjadikan Intania Puspita Dewi Fortuna semakin ingin terus mengembangkan diri. Tak jarang, rasa penasaran membuatnya mencoba hal baru. Tujuannya untuk menambah ilmu dan pengalaman.
Perempuan 22 tahun ini aktif mengikuti organisasi sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Sejak itu, dia mulai meyakinkan diri untuk bisa mengembangkan potensi dalam dirinya. Tak sedikit prestasi yang telah diraihnya. Mulai dari lomba desain busana hingga bergelar Gus Jeng Kabupaten Blitar 2021.
Dia juga pernah tergabung dalam Paskibraka Kabupaten Blitar pada 2018 lalu. “Saya berusaha keras dan terus belajar. Finally God granted me,” ujarnya lantas tersenyum.
Intania mengatakan, kegagalan mengandung banyak makna. Dia percaya bahwa tidak ada kesuksesan tanpa melewati jalur gagal. Baginya, menyiakan kesempatan juga termasuk salah satu kegagalan karena melewatkan satu langkah untuk belajar. Bahkan, jika tidak bisa memberikan manfaat bagi orang sekitar juga termasuk bentuk kegagalan. “Jadi, merasa gagal tidak harus saat berada di puncak,” tutur warga Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan ini.
Rasa jenuh dan malas menjadi tantangan besar baginya. Namun, dia selalu mengelola pemikirannya agar tidak berhenti dan menyerah. Sesekali dia menyempatkan waktu untuk refreshing, mulai dari baca buku motivasi hingga pergi ke tempat liburan. “Malas dan jenuh itu manusiawi, tergantung bagaimana menyikapinya,” katanya.
Intania mengaku senang berinteraksi dan bertemu dengan orang baru. Hal itu dapat menambah relasi. Pun bisa menambah kepekaan dengan dunia luar. “Saya juga senang menjelajahi tempat baru,” akunya.
Melatih public speaking dapat mengembangkan kemampuan untuk bersosialisasi. Dengan cara tersebut, dia dapat memperluas pertemanan di semua kalangan. Menurutnya, belajar dengan banyak orang bisa lebih mengenal berbagai sifat dari berbagai elemen masyarakat. “Banyak ilmu yang dapat dipelajari secara tidak langsung,” ujar perempuan berjilbab ini.
Rasa insecure hampir selalu menghantui dirinya. Namun, dia selalu berupaya agar tidak terjebak dalam kondisi tersebut. Yang penting tetap harus mensyukuri apa yang telah diberi oleh Tuhan.
Orang tua (ortu) menjadi sosok terpenting dalam perjalanannya. Ortu berperan dalam memberikan support dalam hal apa pun. “Mereka yang selalu mengingatkan dan memotivasi saya dalam keadaan apa pun,” tandasnya. (tan/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan