TULUNGAGUNG - Berdasarkan kisah turun menurun dari nenek moyang Tulungagung, pesugihan di kota ini bukanlah sebuah isapan jempol semata. Pasalnya, kisah pesugihan di Tulungagung ini tumbuh subur adanya.
Beberapa faktor yang menyelimuti adanya pesugihan di Tulungagung, diantaranya faktor kuatnya budaya kejawen, faktor ini dibuktikan dengan banyaknya petilasan serta tempat yang disakralkan sehingga beberapa masyarakat memanfaatkan tempat-tempat keramat tersebut sebagai tempat pesugihan yang mujarab.
Selain itu, terdapat faktor persaingan industri yang sangat ketat. Sebagian masyarakat lebih memilih bersaing dengan cara yang instan dan cepat untuk mencapai keuntungan yang besar daripada harus bersaing dengan cara yang sehat dan halal.
Baca Juga: Antara Benar atau Tidak, Ritual Pesugihan yang Aneh Ini Diyakini Ada di Makam Roro Kembang Sore
Oleh karena itu, pesugihan di Tulungagung menjadi alternatif jitu bagi sebagian masyarakat.
Lantas benarkah Tulungagung menjadi tempat pusat pesugihan di Jawa Timur? Berikut penjelasannya.
Dengan maraknya beragam pesugihan di Tulungagung, Maka Tulungagung dianggap menjadi pusat pesugihan di Jawa Timur. Berikut bukti banyaknya pesugihan yang beredar di Tulungagung.
1. Pesugihan Kera/Monyet TPU Ngujang
Sudah tak asing lagi jika TPU Ngujang Konon, ratusan monyet di TPU Ngujang tersebut merupakan jelmaan anak yang dijadikan tumbal dari orang yang melakukan pesugihan. Pada TPU Ngujang, terdapat dua bangunan yang cukup menonjol. Bangunan tersebut yakni makam dan tempat punden yang dikeramatkan.
Dilansir dari Jawapos, kini monyet di TPU Ngujang tersebut berjumlah 200 ekor. Terdapat 2 jenis monyet di TPU Ngujang, yakni monyet ghaib dan monyet sungguhan yang dilindungi makhluk ghaib. Konon, pernah ada yang seseorang yang membawa monyet dari TPU Ngujang. Namun tak lama kemudian, orang yang berani membawa monyet TPU Ngujang tersebut meninggal dunia akibat kecelakaan.
Di sisi lain, wilayah TPU Ngujang merupakan salah satu tempat berjasa bagi penyebaran ajaran islam. Oleh karena itu, tempat ini dikenal memang cukup sakral. Namun, sebagian masyarakat malah menyalahgunakan tempat sakral tersebut sebagai tempat ritual pesugihan.
Baca Juga: Ngeri! Begini Pesugihan Monyet Sampai Ciri-Ciri Orang yang Melakukan Pesugihan Monyet Ngujang
2. Pesugihan Kembang Sore di Bukit Bolo
Pesugihan ini dilakukan dengan cara berhubungan badan. Namun, sebelum itu para pelaku pesugihan harus membawa nasi tumpeng beserta lauk pauk dan wewangian di makam Roro Kembang Sore, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman.
Hingga kini, Makam Roro Kembang Sore di Gunung Bolo dipercaya memiliki tuah ghaib. Hal ini dimanfaatkan oleh pemuja yang ingin mendapatkan kekayaan secara instan.
Setelah menyelesaikan ritual pesugihan di Roro Kembang Sore, biasanya para pelaku pesugihan ini harus langsung bergegas pulang ke rumah. Dan, tidak dperbolehkan berhenti atau mampir di sekitaran Gunung Bolo.
Apabila pesugihan tersebut berhasil, maka mereka harus kembali dengan menyembelih kambing. Kemudian, daging kambing tersebut dimasak di tempat dan dikendurikan di Roro Kembang Sore Gunung Bolo.
Setelah itu, jika mereka ingin cepat kaya maka mereka harus berzina dengan orang yang bukan suami atau istrinya. Sehingga di sekitar Roro Kembang Sore di Gunung Bolo banyak terjadi prostitusi berbasis pesugihan.
Konon, terdapat mitos bahwa jika ke makam Roro Kembang Sore di Gunung Bolo, dilarang membawa pasangan sah. Hal ini dipercaya karena bisa menimbulkan keretakan rumah tangga dan berujung perceraian. Sebab Roro Kembang Sore pun selama hidupnya belum pernah menikah. Oleh karena itu hal tersebut menjadi sebuah kutukan di Gunung Bolo.
Baca Juga: Ritual Pesugihan Roro Kembang Sore di Gunung Bolo, Begini Faktanya
3. Pesugihan di Goa Pasetran Gondo Mayit Dekat Pantai Sine
Goa yang terletak tak jauh dari Pantai Sine ini diyakini memiliki daya tarik spiritual yang tinggi hingga saat ini. Bahkan, masyarakat sekitar menobatkan tempat tersebut menjadi tempat keramat yang dapat dimanfaatkan, salah satunya yakni sebagai sarana pesugihan.
Namun, kini separuh badan Goa tersebut hampir habis dimakan longsor. Jika ingin meminta sesuatu, maka sesajen dapat diberikan dari bibir Goa. Apabila berhasil, keinginan akan terpenuhi, namun jika tidak, maka taruhannya adalah nyawa. Biasanya yang berhasil, melakukan selametan dengan mengorbankan kambing sebagai sesajen pada mahkluk gaib penunggu Pasetran Gondo Mayit.
Nah. Itulah mengapa Tulungagung dianggap menjadi pusat pesugihan di Jawa Timur, karena banyaknya bentuk pesugihan yang dimiliki Tulungagung.
Semoga membantu.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra