Tembang Macapat dan Tahapan Hidup Manusia, dari Lahir hingga Kembali

Hikmatul Insaniya • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:05 WIB
Tembang macapat dijelaskan sebagai gambaran perjalanan manusia, mulai dari dalam kandungan, lahir, tumbuh, berumah tangga, hingga meninggal.
Tembang macapat dijelaskan sebagai gambaran perjalanan manusia, mulai dari dalam kandungan, lahir, tumbuh, berumah tangga, hingga meninggal.

 

KENDAL - Tembang macapat dalam kajian budaya Jawa tidak hanya dipahami sebagai karya sastra atau tembang. Dalam pemaparan sebuah kajian, rangkaian tembang macapat digunakan untuk menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak sebelum lahir hingga memasuki usia tua.

Narasumber menjelaskan bahwa masyarakat Jawa terdahulu menggunakan tembang sebagai sarana menyampaikan nasihat. Pesan tersebut dibuat dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah diterima oleh masyarakat.

Salah satu rangkaian yang dibahas dimulai dari Maskumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom, Asmaradana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, hingga Pucung.

Baca Juga: Soal PPPK Sekolah Rakyat 2026 Hari Pertama: Pecahan hingga Wawancara Muncul

Setiap tembang dijelaskan memiliki gambaran mengenai fase tertentu dalam kehidupan manusia.

Dari Maskumambang hingga Kinanthi

Dalam penjelasan narasumber, Maskumambang menggambarkan manusia ketika masih berada dalam kandungan. Fase tersebut kemudian berlanjut menuju Mijil yang dimaknai sebagai kelahiran.

Setelah lahir, manusia memasuki fase Kinanthi. Pada tahap ini, anak masih membutuhkan pendampingan dan pendidikan dari orang tua.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, 231 Ribu Guru Masuk Rencana Penataan

Narasumber menekankan pentingnya memberikan bekal agama dan akhlak sejak anak masih kecil. Pendidikan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab orang tua dalam membentuk karakter anak.

Kehidupan anak kemudian berkembang menuju fase Sinom. Tahap ini dikaitkan dengan masa muda ketika seseorang mulai tumbuh dan mengalami berbagai perubahan dalam kehidupannya.

Setelah itu, muncul Asmaradana yang dikaitkan dengan fase ketika manusia mulai mengenal asmara.

Dari Asmara hingga Rumah Tangga

Dalam kajian tersebut, Asmaradana digambarkan sebagai masa ketika seseorang mulai mengenal perasaan cinta. Narasumber menyampaikannya dengan gaya humor untuk menggambarkan bagaimana seseorang bisa mengalami rasa rindu dan berbagai persoalan ketika jatuh cinta.

Fase berikutnya adalah Gambuh. Tembang ini dikaitkan dengan tahap ketika laki-laki dan perempuan memasuki kehidupan bersama sebagai pasangan suami istri.

Setelah membangun rumah tangga, manusia kemudian menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Tahap tersebut digambarkan melalui Dhandhanggula.

Baca Juga: 1.147 PPPK Paruh Waktu Resmi Jadi Penuh Waktu, BKN Ungkap Statusnya

Narasumber menyebut kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan dalam kondisi yang sama. Ada masa yang terasa manis dan ada pula masa yang terasa pahit.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia selalu mengalami perubahan.

Masa Pengabdian hingga Usia Tua

Setelah Dhandhanggula, rangkaian kehidupan dilanjutkan dengan Durma. Dalam pemaparan narasumber, fase tersebut dikaitkan dengan masa ketika manusia mulai memberikan manfaat kepada orang lain.

Ia menyampaikan pentingnya menggunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan. Ilmu, harta, maupun tenaga dapat diberikan untuk membantu orang lain.

Fase berikutnya adalah Pangkur. Tembang tersebut dikaitkan dengan masa ketika seseorang mulai memasuki usia tua dan perlahan meninggalkan berbagai aktivitas masa muda.

Narasumber menggambarkan perubahan fisik yang terjadi ketika seseorang bertambah usia. Tenaga mulai berkurang dan kemampuan fisik tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Setelah Pangkur, terdapat Megatruh yang dikaitkan dengan berpisahnya roh dari tubuh. Kemudian Pucung menjadi bagian akhir dari rangkaian yang dijelaskan dalam kajian tersebut.

Rangkaian tembang macapat itu kemudian diposisikan sebagai pengingat bahwa manusia memiliki perjalanan hidup yang bertahap.

Pesan yang ingin disampaikan bukan sekadar mengenalkan nama-nama tembang. Lebih dari itu, tembang macapat menjadi media untuk mengingatkan manusia agar menjalani setiap fase kehidupan dengan tanggung jawab.

source: YouTube/@kedatonpikatan

Editor : Hikmatul Insaniya
Tembang Macapat Maskumambang Kinanthi budaya jawa Filosofi Jawa