Kini porang sangat diminati pasar nasional bahkan Internasional. Sebab, tanaman tersebut memiliki banyak kandungan glukomanan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan bahan baku industri. Kondisi itu menunjukkan bahwa budi daya porang memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan.
Apalagi, saat ini produk berupa tepung porang sangat diminati pasar luar negeri. Seperti halnya yang dilakukan oleh Suparman, warga Desa Plumbangan, Kecamatan Doko. Sejak 1991, Parman membudidayakan porang di lahan milik Perhutani. “Sewa lahan milik Perhutani untuk menanam porang, per hektarenya Rp 350.000 selama satu tahun,” ujarnya.
Porang yang dia tanam dikirim ke Madiun dan diolah menjadi chips atau tepung. Kemudian diekspor ke luar negeri untuk digunakan sebagai bahan industri pangan, obat, dan kosmetik.
Suparman mengaku menanam porang kurang lebih 40 ribu pohon di lahan seluas 5 hektare. Selain menanam porang, dia juga menjual bibit porang. “Per polybag harganya Rp 1.500,” katanya.
Tanaman porang hanya mengalami pertumbuhan selama 5-6 bulan setiap tahunnya. Yakni, pada musim penghujan. Di luar masa itu, tanaman porang mengalami masa istirahat atau dorman dan daunnya akan layu atau seolah-olah mati.
Porang lantas kembali tumbuh pada musim penghujan dan umbi yang tumbuh di dalam tanah akan membesar. Pemanenan porang dilakukan tergantung jenis bibit yang digunakan. “Jika menggunakan umbi besar, panen dapat dilakukan 1- 2 tahun setelah tanam. Umbi kecil atau katak (bulbil) dapat dipanen 2-3 tahun setelah tanam. Dan buah atau biji dipanen 3-4 tahun setelah tanam,” jelasnya.
Biasanya, umbi porang dipanen pada Juli-Agustus ketika tanaman porang memasuki masa dorman. Itu ditandai dengan sebagian besar atau seluruh tanaman sudah mati dan tersisa batang kering. Umbi yang dipanen adalah umbi yang sudah besar dan beratnya mencapai 2 kilogram per umbi. Lalu, umbi yang masih kecil ditinggalkan untuk dipanen pada daur berikutnya.
Dengan populasi 40.000, produksi umbi porang bisa mencapai 80 ton per hektare. Inilah yang menjadi alasan Suparman lebih memilih menanam porang, karena komoditas porang nilainya sangat besar dan pasarnya masih terbuka lebar.
Meski harga porang sempat anjlok pada 2020 yakni sekitar Rp 2 ribu perkilogramnya, karena ditutupnya ekspor dampak pandemi Covid-19, kini ekspor chips atau tepung porang kembali dibuka. “Saat ini harga jual porang berkisar Rp 6.500-7.000 per kilogram,” pungkasnya.(mg1/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni