BLITAR – Lebih dari 500 calon legislatif (caleg) bakal berebut 50 kursi DPRD Kabupaten Blitar dalam Pemilu 2024. Minimnya peluang sukses ini diduga menjadi pemicu sejumlah masalah gangguan kejiwaan. Hal ini menjadi perhatian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi Blitar.
Sedikitnya 17 bangsal untuk caleg disiapkan untuk mengantisipasi melonjaknya kebutuhan pelayanaan kejiwaan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar Endah Woro Utami mengaku telah menyiapkan 17 bangsal caleg di area paviliun. Selain sarana rawat inap, ada fasilitas rawat jalan dan home care.
“Rawat jalan di klinik merupakan prioritas awal untuk mendeteksi secara baik. Namun bila dampaknya sampai pada fisik, disiapkan belasan bangsal untuk caleg di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar,” katanya.
Menurut dia, Pemilu 2024 bisa membawa beragam dampak. Salah satunya kesehatan jiwa. Untuk itu, pihaknya menyiapkan tenaga medis agar pasien yang datang tidak sampai mengalami depresi.
“Jadi nanti ada hotline yang mudah dihubungi. Teknisnya, setelah menerima informasi dari hotline, tim akan datang untuk melakukan treatment," katanya.
"Bila mereka sadar bisa datang ke klinik. Bahkan sudah disiapkan rawat inap berprivasi dan keamanannya terjamin,” ujar Woro.
Selain sarana prasarana khusus, Woro juga akan memberikan pelatihan pada tenaga medis untuk penanganan pasien kejiwaan. Dengan begitu, pelayanan kejiwaan ini bisa memberikan perawatan secara optimal.
“Penanganan jiwa atau klinik jiwa ini bisa menggunakan BPJS. Harusnya caleg sudah menggunakan BPJS. Untuk saat ini, 80 persen kasus jiwa memakai BPJS,” terangnya.
Gangguan jiwa bisa dideteksi sejak dini. Biasanya, orang terdekat yang lebih dahulu mengetahui perubahan pasien. Hal ini juga berlaku untuk para caleg yang gagal menjadi wakil rakyat.
Menurut dia, pasien atau caleg yang mengalami gangguan jiwa harusnya terbuka dan harus menerima kegagalan pencalonan pejabat itu.
Memang ada caleg yang bisa menerima kekalahan dengan lapang dada, tetapi juga ada yang justru mengurung diri.
“Kami tentu komunikasi dengan keluarga. Bila nanti ada gejala caleg yang susah tidur, mengurung diri, hingga tidak mau makan, hubungi home care klinik jiwa atau datang langsung ke klinik,” pungkasnya. (jar/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan