RADAR TULUNGAGUNG - Proses penerapan hasil penelitian BRIN untuk menunjang UMKM menarik untuk disimak.
Mengingat hasil penelitian itu bisa mengembangkan UMKM meraih hasil maksimal.
Baca Juga: 139 Ribu Pelaku Usaha Mikro di Tulungagung Sulit Naik Kelas, Kok Bisa?
Ternyata ada dua skema model pendampingan UMKM yang bisa dimanfaatakan. Yakni mentoring dan coaching clinic. Apa perbedaannya?
Intinya kalau yang mentoring ini pendampingan satu per satu untuk para UMKM dan ada metode seleksinya.
Kalau yang coaching ini kami bekerjasama dengan mitra di daerah, baik itu dari pihak pemda, maupun juga dengan asosiasi.
Jadi pendampingannya secara kelompok untuk permasalahan yang sejenis.
"Ada perbedaan mengenai dua hal itu," kata Aswin Firmansyah dari Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, UMKM pada Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN
Untuk mentoring, lanjut Aswin, ada beberapa langkah yaitu identifikasi masalah melalui rangkaian diskusi, wawancara baik online maupun offline, survei, pengamatan proses produksi, dan pengambilan sampel.
Baca Juga: Koperasi Syariah Bergeliat, Akankah Sektor Ekonomi di Tulungagung Selamat?
“Selanjutnya melakukan analisis melalui pengujian dan pembuktian di laboratorium dan lapangan. Berikutnya, penyampaian rekomendasi berdasarkan hasil analisis, disertai dengan praktek penerapan teknologi,” urainya.
Pada coaching clinic, ada beberapa kegiatan antara lain pemaparan materi terkait permasalahan teknologi yang diusulkan mitra.
Konsultasi sebagai sarana interaksi one-on-one antara mitra dengan periset terkait perbaikan produk mitra.
Di samping itu juga melakukan demo dan kunjungan lokasi produksi melalui praktek atau simulasi.
Baca Juga: Masyarakat Tulungagung Siap Puasa, Berikut Ide Usaha di Bulan Ramadhan
Hal ini berdasarkan materi yang telah disampaikan agar mitra dapat menerapkan pada proses produksi.
"Maksud dari kunjungan ini untuk menambah wawasan bagi peserta terkait proses produksi mitra yang dianggap sudah baik,” rinci Aswin.
Baca Juga: dr. Nindra dan HWPMI Berharap Gatut Sunu - Ahmad Baharudin Mampu Wujudkan Iklim Usaha yang Kondusif
Lebih jauh lagi Aswin membeberkan, BRIN akan melakukan asesmen sebagai parameter dalam mengukur dan mengulas balik kegiatan ini.
Asesmen tersebut meliputi kelayakan usaha dengan memperhatikan legalitas usaha, omset, dan kapasitas usaha penghargaan, keikutsertaan dalam komunitas usaha.
Baca Juga: Perjalanan Nanik Sriwiyani Kembangkan Usaha Melati Ronce di Tulungagung Ternyata Bermula dari Sini
“Kita juga akan melihat analisis situasi dan permasalahan mitra yaitu permasalahan teknis kebutuhan hasil riset dan inovasi, serta ketersediaan solusi yang ditawarkan,” ucapnya.
Selanjutnya, urgensi pemanfaatan riset dengan melihat seberapa penting atau mendesak calon mitra untuk mendapatkan kegiatan mentoring dalam pengembangan usaha.
“Potensi kemanfaatan pasca fasilitasi intenal dan esternal yang diukur melalui potensi peningkatan omset, kualitas produk, market, penyerapan tenaga kerja, dan lain-lain,” ujarnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana