Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jeritan Perajin Kerai Asal Desa Gandong Tulungagung yang Kesulitan Bahan Bambu, Tak Lagi Ada Lahan Hijau, Terpaksa Datangkan dari Luar Kota

Rinto Wahyu Hidayat • Kamis, 29 Mei 2025 | 00:00 WIB
Desa Gandong,  Kecamatan Bandung, Tulungagung, dikenal dengan anyaman bambu.    ,
Desa Gandong, Kecamatan Bandung, Tulungagung, dikenal dengan anyaman bambu. ,

TULUNGAGUNG - Di sebuah sudut sepi Desa Gandong, Kecamatan Bandung, Tulungagung, suara bambu yang dikerat dan dianyam masih terdengar lirih, meski tak lagi seramai dulu.

Suara itu bukan hanya bunyi pekerjaan, tapi napas-napas para perajin yang bertahan bukan karena tak punya pilihan, tapi karena mereka ingin menjaga yang tersisa dari tradisi di selatan Tulungagung ini.  .

Setiap pagi di Dusun Bancang, Desa Gandong, Siti Komariyah, membuka jendela kayu rumahnya yang sederhana. Di teras, bambu-bambu yang sudah direndam menanti disentuh.“Saya sudah 30 tahun bikin kerai. Hasil produksi dijual Tulungagung saja,” ujarnya pelan.

Tangannya mengelus serat bambu, seolah sedang berbicara dengan sesuatu yang lebih dari sekadar bahan baku. “Dulu orang datang jauh-jauh ke Tulungagung. Sekarang, sepi sekali.”

Pandemi datang seperti ombak dan di Tulungagung lambat surutnya. Harga sembako naik, pekerjaan jadi langka, dan kerai yang dulu menjadi tumpuan hidup kini sulit dijual.

“Kami nggak bisa jual murah, karena ini bukan dari mesin. Kami bikin pakai hati,” kata Mujiono, perajin lain di Tulungagung yang kini lebih sering menunggu ketimbang menganyam.

Tapi yang paling membuat mereka sesak bukan sekadar dagangan yang tak laku, melainkan bambu yang makin sulit didapat di Tulungagung.

Lahan-lahan hijau yang dulu jadi sumber kehidupan, satu demi satu hilang, diganti bangunan dan ladang singkong.

“Sekarang harus beli dari luar Tulungagung, dari Ponorogo. Ongkosnya besar,” jelas Mujianto sambil menghela nafas, kerai Gandong. “Biaya naik, tapi harga jual tetap,” imbuhnya.

Di tengah tekanan ekonomi, ancaman lain datang, kehilangan generasi penerus di Tulungagung, anak-anak muda lebih tertarik bekerja di pabrik atau menjadi konten kreator.

“Anak saya nggak mau nerusin. Katanya capek dan hasilnya kecil,” tutur Siti sambil tersenyum tipis, menyembunyikan kekhawatiran yang dalam. Tak ada amarah, hanya getir yang tertahan.

Namun warga Tulungagung bukan peminta-minta. Mereka tidak mengeluh karena ingin dibantu, tapi karena ingin didengar.

Baca Juga: Tepis Stigma, Nuralifah Sukses Usaha Kerajinan Tas Anyaman

Mereka berharap ada pelatihan desain, akses pemasaran digital, dan jaminan pasokan bambu agar bisa tetap hidup dari yang mereka tahu, menganyam.

“Kami cuma ingin bertahan. Kalau bukan kami, siapa lagi yang jaga ini?” tanya Mujiono, lebih pada dirinya sendiri.

Kerai bambu di Tulungagung bukan sekadar pelindung dari panas atau hiasan jendela. Ia adalah pelindung martabat.

Di setiap bilahnya tersimpan cerita tentang ayah yang tak menyerah, ibu yang sabar menunggu pembeli, dan desa yang terus berjuang di tengah gelombang zaman, Tulungagung masih bernapas lewat tangan-tangan tua yang sabar.

Selama suara bambu masih terdengar di Gandong, selama Siti dan Mujiono masih duduk menganyam di bawah cahaya matahari pagi, maka kita tahu: harapan itu belum mati. Ia hanya menunggu di ujung anyaman.(rin)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Desa Gandong #kerai #tulungagung