RADAR TULUNGAGUNG - Tingginya permintaan global mengakibatkan harga patokan ekspor (HPE) konsentrat tembaga naik 2,29 persen dibandingkan periode pertama September 2025.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai, tingginya permintaan global untuk industri energi mengerek kenaikan harga komoditas tersebut.
Pit Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tommy Andana mengatakan, HPE periode kedua September 2025 ditetapkan sebesar USD 4.745,52 per metric ton (WMT). Sedangkan pada periode pertama, USD 4.639,10 per WMT.
Baca Juga: Seminar UMKM Naik Kelas Berjalan Gayeng, Wawali Surakarta dan CEO Zendo Berbagi Kiat Sukses
"Kenaikan HPE konsentrat tembaga sejalan dengan meningkatnya harga mineral tembaga sebesar 1,13 persen, Kenaikan tersebut didorong tingginya permintaan global terutama dari industri energi terbarukan seperti panel surya, kendaraan listrik, dan manufaktur perangkat elektronik," ujar Tommy di Jakarta, Senin (15/9).
Tommy menjelaskanter batasnya pasokan akibat gangguan produksi di sejumlah tambang besar dunia, serta fluktuasi nilal tukar juga memperkuat harga komoditas logam. Kenaikan juga disebabkan minat investor terhadap logam mulia yang tinggi.
"Faktor-faktor tersebut secara keseluruhan mendorong kenaikan rata-rata harga konsentrat tembaga pada periode kedua September 2025," urai Tommy.
Pengamat Tambang dan Energi Ferdy Hasiman menyatakan bahwa industri tembaga dan emas masih sangat menarik di masa mendatang.
Apalagi PT Freeport masih memiliki cadangan dua miliar ton bijih logam berupa tembaga, perak dan emas sampai 2041.
Kenaikan harga patokan ekspor (HPE) tembaga sebesar 2,29 persen mencerminkan tren positif dalam perdagangan komoditas mineral Indonesia. Kenaikan ini dipengaruhi fluktuasi harga global dan permintaan pasar yang meningkat.
Bagi eksportir dan pelaku industri pertambangan, hal ini menjadi sinyal untuk mengoptimalkan peluang ekspor dan menyesuaikan strategi bisnis.
Informasi HPE tembaga terbaru ini penting untuk dijadikan acuan dalam merencanakan aktivitas ekspor serta memahami dinamika pasar komoditas secara keseluruhan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana