RADAR TULUNGAGUNG - Dalam beberapa waktu terakhir, pasar keuangan Indonesia menunjukkan fenomena yang menarik.
Meskipun rupiah tertekan terhadap dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencetak rekor tertinggi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah Bank Indonesia (BI) akan merespons dengan pelonggaran moneter yang lebih agresif?
Beberapa faktor yang menjadi tekanan terhadap rupiah antara lain:
Baca Juga: Bisnis Emas Melesat, Laba Bank Syariah Indonesia Menguat, Ini Rinciannya
1. Kenaikan Yield dan Kekakuan Kebijakan Moneter Global
Jika suku bunga acuan AS (The Fed) relatif tinggi atau belum mengalami penurunan, dana investor global cenderung mencari yield yang lebih menarik di luar pasar negara berkembang. Hal ini menekan arus dana keluar (capital outflow) dari Indonesia.
Mantan Menkeu Sri Mulyani sempat menyebut bahwa tekanan terhadap rupiah terutama datang dari arah kebijakan The Fed dan penguatan dolar AS.
Baca Juga: Potensi Energi Panas Bumi Indonesia Belum Tergarap Maksimal, Pengamat Energi Bilang Begini
2. Pemangkasan Bunga Domestik Tidak Diantisipasi Pasar
Saat BI memotong suku bunga acuan, perbedaan imbal hasil antara instrumen Indonesia dan luar negeri bisa semakin tipis, sehingga investor bisa beralih ke aset luar negeri. Dalam laporan, disebut bahwa pemangkasan 25 bps oleh BI menyisakan risiko pelemahan rupiah.
Minggu ini, rupiah melemah hingga ke level Rp16.601 per dolar AS setelah pemangkasan bunga tak diantisipasi pasar.
3. Sentimen Politik dan Fiskal
Pergantian kabinet atau reshuffle menteri bisa menimbulkan ketidakpastian bagi investor yang ingin menanamkan modal
Peningkatan belanja pemerintah dalam jangka pendek tanpa dukungan pendapatan yang kuat bisa meningkatkan defisit fiskal, yang memicu tekanan pada mata uang domestik.
4. Tekanan eksternal & komoditas
Harga komoditas yang menurun dapat melemahkan pendapatan ekspor dan cadangan devisa negara.
Gejolak global, seperti konflik geopolitik atau perlambatan ekonomi, dapat memicu aliran modal keluar dari pasar berkembang.
Hasilnya, dalam pekan terakhir rupiah melemah sekitar 1,38 % hingga tembus ke level Rp 16.601 per dolar AS, menjadikannya salah satu pelemahan terbesar di antara mata uang regional.
IHSG Cetak Rekor Tertinggi
Fenomena bahwa indeks saham utama menguat justru saat rupiah melemah mungkin tampak irasional, tetapi bisa dijelaskan oleh sejumlah faktor:
1. Likuiditas Domestik dan Aliran Dana Murah
Dengan kebijakan moneter yang pro-pertumbuhan, likuiditas domestik meningkat. Hal ini menjadi bahan bakar bagi pasar saham.
Pemangkasan suku bunga oleh BI bisa menurunkan biaya modal dan meningkatkan minat investor lokal terhadap saham.
2. Sentimen Politik dan Restrukturisasi Kabinet
IHSG dinilai “melawan efek September” dan mampu mencetak rekor (8.051) didorong oleh pelonggaran kebijakan moneter serta reshuffle kabinet.
Restrukturisasi di pemerintahan dan kebijakan baru memberi optimisme bahwa kebijakan pro-rakyat akan diikuti insentif ekonomi.
3. Minat Investor Asing dan Aliran Modal Portofolio
Di tengah pelemahan rupiah, investor asing bisa saja melihat valuasi saham Indonesia sebagai menarik.
4. Fundamental Korporasi dan Ekspor
Perusahaan yang memiliki basis produksi ekspor akan mendapat keuntungan dari pelemahan rupiah (karena rupiah lebih murah terhadap dolar).
Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, IHSG mampu mencetak rekor terbaru meskipun rupiah terus berada di tekanan.
Apakah BI Akan Melonggarkan Kebijakan Moneter Lebih Lanjut? Berikut beberapa inti skenario dan pertimbangan bagi kebijakan BI:
Independensi bank sentral, Keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan, Inflasi & ekspektasi harga serta Kondisi eksternal & suku bunga global.
Jadi, Bank Indonesia kemungkinan akan melonggarkan kebijakan moneter secara hati-hati untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas nilai tukar. ****
Editor : Dharaka R. Perdana