RADAR TULUNGAGUNG– Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan hebat dari mata uang Negeri Paman Sam dalam sepekan terakhir.
Pada perdagangan Kamis (25/9/2025), rupiah bahkan anjlok menembus level psikologis baru, di mana nilai dolar Amerika Rp.16.700.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat, mengingat tren pelemahan rupiah telah terjadi selama enam hari berturut-turut sejak 18 September 2025.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemahnya di angka Rp16.750 per dolar AS.
Pelemahan ini berlanjut pada pembukaan perdagangan Jumat (26/9/2025) pagi, di mana rupiah kembali melemah 26 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp16.775 per dolar AS.
Menyikapi kondisi kurs dolar AS Rp.16.700 ini, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah strategis untuk menstabilkan pasar.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mencoba menenangkan pasar dengan menyebut bahwa penguatan dolar AS yang menekan rupiah hanyalah fenomena sementara. "Oh itu sementara aja," ujarnya singkat saat ditemui di ICE BSD Tangerang, Kamis (25/9/2025).
Meskipun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, pernyataan ini mengindikasikan optimisme pemerintah bahwa fundamental ekonomi dalam negeri masih cukup kuat untuk menghadapi gejolak eksternal.
Sementara itu, di tengah tekanan nilai tukar ke level dolar AS Rp.16.700, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah yang lebih agresif.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, IHSG Cetak Rekor Tertinggi, BI Siap Melonggarkan Kebijakan Moneter?
BI Kerahkan Seluruh Instrumen Secara Bold
Menjawab keresahan pasar, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dalam pernyataan resminya pada Jumat (26/9/2025), Perry menyatakan bahwa BI telah mengerahkan seluruh instrumen yang ada secara bold (berani) untuk menangkis pelemahan rupiah lebih lanjut.
Langkah intervensi ini dilakukan BI baik di pasar domestik maupun di pasar luar negeri. Di dalam negeri, BI menggunakan instrumen spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Sementara itu, untuk intervensi di pasar global, BI secara terus-menerus melakukan intervensi non-deliverable forward (NDF) di pasar Asia, Eropa, dan Amerika.
"Bank Indonesia menggunakan seluruh instrumen yang ada secara bold," tegas Perry dalam pernyataannya.
Ia meyakini bahwa seluruh upaya yang telah dan akan terus dilakukan ini dapat menstabilkan nilai tukar rupiah dan mengembalikannya sesuai dengan nilai fundamentalnya.
Ajakan untuk Menjaga Kondusivitas Pasar
Selain melakukan intervensi langsung, Gubernur BI Perry Warjiyo juga secara khusus mengajak seluruh pelaku pasar untuk ikut serta menjaga iklim pasar keuangan yang kondusif.
Menurutnya, kerja sama dan sinergi dari semua pihak sangat dibutuhkan agar stabilitas nilai tukar rupiah dapat tercapai dengan baik.
Pelemahan rupiah yang terjadi selama sepekan terakhir ini memang cukup signifikan. Jika dibandingkan dengan posisi pembukaan perdagangan pada hari Jumat pekan sebelumnya, rupiah tercatat telah melemah sekitar 1,23 persen.
Bahkan jika dihitung sejak awal pekan pada Senin (22/9/2025), pelemahannya telah mencapai 0,85 persen.
Pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir memang cukup fluktuatif, bergerak di kisaran Rp16.600 hingga Rp16.700 per dolar AS.
Sempat menyentuh level Rp16.500-an pada Selasa pagi (23/9/2025), rupiah kembali terdepresiasi pada sesi-sesi perdagangan berikutnya.
Baca Juga: Fakta Atau Hoax, Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Meningkat Jadi Rp 8.170,65
Dengan pengerahan seluruh instrumen oleh BI, diharapkan tekanan terhadap rupiah dapat mereda dan nilai tukarnya kembali stabil, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran lebih jauh mengenai potensi dolar AS yang bisa menembus level Rp17.000.
Masyarakat, termasuk di Tulungagung, diharapkan tetap tenang dan mempercayakan stabilitas moneter kepada otoritas terkait. ****
Editor : Dharaka R. Perdana