RADAR TULUNGAGUNG – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren positif di awal perdagangan hari ini, Kamis (16/10/2025), melawan dominasi Dolar Amerika Serikat (AS).
Mata uang Garuda ini berhasil melanjutkan tren menguat tipis seiring dengan perkembangan sentimen pasar global yang mendukung aset-aset berisiko, termasuk mata uang Asia.
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, rupiah tercatat naik tipis sebesar 0,02 persen atau setara dengan 3 poin.
Pada pembukaan perdagangan pagi hari di Jakarta, rupiah berada di level Rp16.573 per Dolar AS. Angka penguatan tipis ini merupakan kelanjutan dari kinerja solid pada penutupan hari sebelumnya, Rabu (15/10/2025), di mana rupiah ditutup naik 0,16 persen atau sebesar 27 poin menjadi Rp16.576 per Dolar AS.
Analis Pasar Uang, Lukman Leong, memperkirakan bahwa mata uang domestik ini berpotensi untuk menguat lebih lanjut terhadap Dolar AS, yang memang tengah melanjutkan tren pelemahannya hari ini.
Penguatan rupiah di pasar spot ini didorong oleh sejumlah faktor fundamental, baik dari dalam negeri maupun pengaruh kebijakan moneter global.
Secara eksternal, pelemahan Dolar AS disebabkan oleh pernyataan 'dovish' (kebijakan moneter longgar) yang dilontarkan oleh pejabat The Fed, Stephen Miran.
Miran menyiratkan perlunya penurunan suku bunga acuan lebih cepat, terutama sebagai respons terhadap dampak sengketa dagang yang berkelanjutan antara AS dan Tiongkok.
Selain itu, meredanya kekhawatiran terkait perang dagang AS-China juga menjadi katalis yang mendorong rupiah menguat.
Analis Pasar Uang lainnya, Fikri C. Permana, menjelaskan bahwa meningkatnya ekspektasi akan penurunan suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang mendorong apresiasi nilai tukar.
Ekspektasi ini semakin kuat setelah pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, yang memberikan sinyal pemangkasan suku bunga.
Sinyal tersebut didasarkan pada pengamatan Powell terhadap data tenaga kerja AS yang mulai menunjukkan pelemahan.
Dengan adanya indikasi pelonggaran moneter di AS, minat investor terhadap mata uang pasar berkembang seperti rupiah cenderung meningkat.
Selain faktor kebijakan The Fed, Fikri juga mencatat bahwa pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) turut mendorong penurunan suku bunga acuan global secara umum.
Lingkungan suku bunga global yang longgar ini menciptakan peluang yang lebih baik bagi pergerakan positif mata uang lokal seperti rupiah.
Di dalam negeri, perkembangan ekonomi Indonesia juga memberikan dukungan signifikan terhadap penguatan nilai tukar rupiah. Fikri C. Permana menyatakan optimisme ekonomi Indonesia terjaga dengan baik, didukung oleh dorongan likuiditas yang secara aktif digulirkan oleh Menteri Keuangan Purbaya.
Dukungan likuiditas dari pemerintah ini dipercaya dapat menjaga stabilitas pasar keuangan domestik dan meningkatkan kepercayaan investor.
Lukman Leong memproyeksikan bahwa kisaran pergerakan rupiah hari ini kemungkinan akan berada antara Rp16.500 hingga Rp16.600 per Dolar AS.
Sementara itu, Fikri C. Permana memberikan perkiraan yang sedikit lebih optimistis, memprediksi rupiah berpotensi terapresiasi hingga menyentuh level Rp16.520 per Dolar AS.
Prediksi ini mencerminkan keyakinan pasar bahwa faktor-faktor eksternal dan internal saat ini bersinergi positif untuk mengangkat nilai rupiah.
Penguatan rupiah yang berkelanjutan, meski tipis, ini menandakan respons pasar yang baik terhadap langkah-langkah kebijakan moneter dan fiskal baik di tingkat domestik maupun global.
Kebijakan 'dovish' dari The Fed, yang dipengaruhi oleh kekhawatiran atas sengketa dagang AS-Tiongkok serta data tenaga kerja yang melemah, memberikan ruang gerak bagi mata uang Asia untuk bernapas.
Merespons perkembangan ini, rupiah menunjukkan ketahanan dan potensi apresiasi yang cukup menjanjikan di tengah ketidakpastian global.
Sebagai perbandingan, pada saat yang sama, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dilaporkan ditutup turun ke level 8.051 pada perdagangan kemarin, menunjukkan bahwa meski nilai tukar menguat, sentimen perdagangan di pasar saham masih lesu.
Meskipun demikian, fokus utama pada hari ini tetap pada kelanjutan tren penguatan rupiah yang telah ditunjukkan sejak pembukaan.
Baca Juga: Perdagangan Awal Oktober, Rupiah Melemah ke Rp16.625 per Dolar AS, IHSG Justru Dibuka Menguat
Dalam konteks yang lebih luas, konsistensi penguatan rupiah ini merupakan berita baik bagi perekonomian daerah seperti Tulungagung, karena nilai tukar yang stabil dan menguat dapat membantu menekan biaya impor dan menjaga inflasi.
Para pelaku usaha di Tulungagung, khususnya yang bergantung pada bahan baku impor, dapat mengharapkan sedikit kelegaan dari tekanan mata uang asing.
Kejadian ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang longgar dan ekspektasi pemangkasan suku bunga (The Fed) terus menjadi penentu utama pergerakan rupiah terhadap Dolar AS saat ini. ****
Editor : Dharaka R. Perdana