RADAR TULUNGAGUNG - Ibu rumah tangga di Tulungagung harus mulai memikirkan pengeluaran untuk bumbu dapur, khususnya cabai.
Alasanya menjelang akhir tahun, harga tiga jenis komoditas cabai di Pasar Ngemplak Tulungagung cenderung fluktuatif. Akibatnya, keuntungan yang didapat pedagang jadi tidak menentu.
Salah seorang pedagang cabai di Pasar Ngemplak Tulungagung, Novia mengatakan, harga komiditi cabai di Pasar Ngemplak memang terus berubah-ubah.
Namun hal ini tidak berpengaruh pada tingkat penjualan cabai, karena masih tetap dicari masyarakat. "Harga cabai memang naik turun sejak sebulan yang lalu," katanya kemarin (4/11/2025).
Baca Juga: Kenapa Orang Indonesia Suka Makanan Pedas? Ada Rahasia di Balik Cita Rasa Nusantara
Menurut dia, naik turunnya harga cabai tidak sama. Contohnya cabai keriting tembus hingga Rp 40.000 per kilogram.
Padahal dalam kondisi normal seharusnya hanya dipatok kisaran Rp 25.000 - Rp 30.000 per kilogramnya. Di sisi lain, cabai jenis rawit justru anjlok hingga Rp 17.000 per kilogram. “Turun kalau cabai rawit, kalau keriting naik,” tambahnya.
Tidak stabilnya harga di pasaran ini membuat resah para pedagang karena mempengaruhi keuntungan yang diperoleh oleh mereka. "Bagaimana lagi, karena ini sudah sering terjadi," ujarnya.
Sementara itu, Seran, pedagang cabai lain mengaku bahwa keuntungan yang diperoleh olehnya menjadi menipis.
Baca Juga: Gen Z Rela Tersiksa Rasa Pedas Meskipun Bikin Keringat Bercucuran, Begini Alasannya
Dia berharap di tengah tidak menentunya harga, cabai yang dijualnya bisa tetap laris dan keuntungan yang diperolehnya menjadi lebih banyak. "Otomatis kami harus mengikuti mekanisme. Yang penting jualan tetap laku," akunya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana