RADAR TULUNGAGUNG - Sepinya aktivitas jual beli di Pasar Wage Tulungagung menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para pedagang setempat.
Kondisi pasar di Jalan WR Soepratman Tulungagung yang kian lengang dalam beberapa waktu terakhir membuat para penjual harus memutar strategi.
Agar tetap bisa bertahan dengan pendapatan yang semakin menurun dan sumber penghasilan utama yang semakin sulit diandalkan.
Salah satu karyawan kios pakaian di Pasar Wage Tulungagung, Novi mengungkapkan, kondisi sepi di pasar tersebut sudah terjadi sejak dua hingga tiga tahun terakhir.
Dia menuturkan, pada masa pandemi Covid-19, aktivitas jual beli masih terlihat meski tidak seramai biasanya.
Namun, setelah situasi kembali normal, jumlah pengunjung justru terus menurun hingga aktivitas perdagangan perlahan menghilang. Beberapa blok di area pasar kini bahkan benar-benar kosong dan tidak lagi ditempati pedagang.
Area yang paling terdampak, kata dia, berada di bagian selatan serta belakang pasar yang kini berubah menjadi lorong sepi tanpa aktivitas.
“Sepi, dua, tiga tahun ini sepi. Waktu Covid-19 itu bagian selatan sama belakang mulai tutup, tapi pengunjung masih ada lah. Sekarang jarang,” ujarnya ketika ditemui, Jumat (21/11).
Baca Juga: Waspada Fenomena Ghost Job Bayangi Jutaan Pencari Kerja, Ini Modus Perusahaan di Pasar Tenaga Kerja
Wanita yang telah bekerja di Pasar Wage selama 12 tahun itu mengatakan, sepinya pasar berimbas langsung pada pendapatan yang menurun drastis di kios tempat ia bekerja.
Jika pada masa-masa ramai dulu jumlah pemasukan yang diperoleh kiosnya dapat mencapai Rp 5 juta hingga Rp 15 juta per hari, namun kini hanya di angka Rp 200.000 hingga Rp 2 juta. Jika diibaratkan, penghasilan tokonya menurun dari 100 persen menjadi 20 persen.
Dia menduga kondisi tersebut dipengaruhi oleh perubahan pola belanja masyarakat seiring perkembangan zaman.
Kini, semakin banyak toko daring yang menawarkan kemudahan transaksi tanpa harus datang langsung ke pasar.
Alhasil, pembeli lebih memilih berbelanja melalui platform online sehingga pasar tradisional seperti Pasar Wage semakin ditinggalkan.
Dia tidak menutupi rasa sedihnya melihat keadaan pasar yang kian merosot. Bahkan, kondisi tersebut memaksa dirinya dan rekan sesama penjaga kios untuk mengatur jadwal jaga secara bergiliran. Masing-masing dari mereka hanya mendapat waktu berjaga sekitar dua minggu dalam satu bulan.
Dia berharap kondisi ini bisa segera berakhir dan pasar bisa kembali ramai seperti dulu kala. “Sedih, efeknya ke karyawan. Jaganya itu harus rolling-an, kan biasanya kerja full sebulan, sekarang cuma per bulan itu dua minggu aja masuknya. Ya semoga bisa ramai lagi,” tutupnya.
Sementara itu, kondisi tak jauh berbeda dialami oleh Ernawati, salah satu pemilik kios lainnya di Pasar Wage Tulungagung.
Dia menyampaikan, dalam satu hari penuh, dagangannya kini jarang sekali diminati pembeli, bahkan tidak jarang dirinya pulang tanpa satu pun transaksi terjadi.
Padahal, ujar Ernawati, saat kondisi pasar masih ramai dulu bisa memperoleh pendapatan antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta setiap bulan.
Namun kini, seiring pasar yang semakin sepi, penghasilan yang dibawanya pulang merosot tajam dan hanya berkisar Rp 150.000 sampai Rp 600.000 saja per bulan.
Baca Juga: Analis Global Peringatkan Penerapan Biodiesel B50, Harus Pertimbangkan Risiko Fiskal dan Pasar Sawit
Dia menuturkan bahwa kondisi pasar yang kian sepi ini sebenarnya sudah berlangsung selama dua tahun terakhir. Situasi tersebut membuatnya semakin pasrah menghadapi keadaan.
Dia menegaskan bila suatu saat harus menutup kiosnya tidak akan terlalu keberatan. Sebab, pendapatan yang diperoleh dari berjualan kini sudah tidak sebanding lagi dengan tenaga dan waktu yang ia keluarkan.
“Secara penghasilan sebenarnya juga sudah menipis, jadi kalaupun harus tutup ya enggak peduli,” katanya sambil tersenyum.
Dia menyampaikan harapannya agar kondisi memprihatinkan yang melanda Pasar Wage ini dapat segera berakhir.
Para pedagang kecil sangat membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah, khususnya terkait upaya menghidupkan kembali pasar tradisional.
Menurut dia, rekan-rekan pedagang lainnya kerap merasa terabaikan. Harapannya, ada langkah nyata yang dapat membantu mereka kembali bangkit dan mempertahankan mata pencaharian.
Berdasarkan pantauan Koran ini, suasana Pasar Wage pada pukul 11.00 WIB tampak lengang. Di sejumlah lorong, deretan kios terlihat lebih banyak yang tutup.
Sementara itu, para pedagang yang masih memilih bertahan tampak duduk santai sambil berbincang-bincang.
Namun, setiap kali ada pengunjung yang melintas, mereka langsung menunjukkan antusiasme dengan menawarkan dagangan sebagai upaya untuk menarik perhatian. ****
Editor : Dharaka R. Perdana