RADAR TULUNGAGUNG - IHSG hari ini Kamis 8 Januari 2026 kembali mencatatkan sejarah baru di pasar modal Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatan dan nyaris menembus level psikologis 9.000, yang selama ini menjadi target besar pelaku pasar.
Pergerakan positif IHSG ini terjadi di tengah sorotan investor terhadap faktor global dan agenda ekonomi domestik.
Berdasarkan pantauan perdagangan hingga sekitar pukul 10.45 WIB, IHSG hari ini Kamis 8 Januari 2026 bergerak di level 8.998, hanya terpaut dua poin dari level 9.000.
Sepanjang sesi berjalan, IHSG tercatat menguat di kisaran 0,59–0,60 persen, sekaligus mencetak level tertinggi sepanjang masa (all time high) yang baru.
Kinerja impresif IHSG hari ini Kamis 8 Januari 2026 menegaskan optimisme investor terhadap prospek ekonomi nasional, meskipun pergerakannya masih terbilang tipis dan fluktuatif.
Saham Penggerak dan Pemberat IHSG
Pada perdagangan sebelumnya, sejumlah saham menjadi motor utama penguatan IHSG.
Saham-saham seperti DSSA, ANTM, AMMN, ASII, dan KPIG tercatat sebagai penggerak utama indeks.
Kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar ini berhasil menopang laju IHSG menuju level historis.
Di sisi lain, terdapat pula saham-saham yang menjadi pemberat pergerakan indeks. Beberapa di antaranya adalah BRMS, COIN, BRPT, BMRI, dan CUAN.
Tekanan dari saham-saham tersebut membuat laju penguatan IHSG belum mampu menembus level 9.000 secara meyakinkan hingga pertengahan sesi.
Sentimen APBN Jadi Perhatian Pasar
Selain pergerakan saham, perhatian pelaku pasar hari ini juga tertuju pada agenda penting pemerintah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dijadwalkan menggelar konferensi pers realisasi APBN Januari 2026 pada Kamis siang pukul 13.30 WIB.
Paparan tersebut akan menyampaikan realisasi penuh APBN tahun anggaran 2025.
Pasar menantikan gambaran kinerja APBN dari sisi belanja, pendapatan negara, hingga kondisi defisit.
Isu defisit APBN menjadi perhatian utama, seiring kekhawatiran sebagian investor terhadap potensi pelebaran defisit dari target yang telah ditetapkan.
Sementara itu, pemerintah juga menegaskan bahwa APBN 2026 tidak akan direvisi.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan postur APBN 2026 telah disahkan dalam undang-undang, dan setiap penyesuaian hanya bisa dilakukan melalui mekanisme resmi sesuai ketentuan.
Data Ekonomi AS Pengaruhi Pasar Global
Dari sisi global, sentimen datang dari Amerika Serikat. Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS turun 303 ribu menjadi 7,146 juta pada November 2025.
Angka ini menjadi level terendah sejak September 2024 dan jauh di bawah ekspektasi pasar di kisaran 7,6 juta.
Penurunan lowongan pekerjaan tercatat terjadi di sektor akomodasi dan makanan, transportasi dan pergudangan, utilitas, serta perdagangan grosir.
Sebaliknya, lowongan kerja justru meningkat di sektor konstruksi dan beberapa sektor lainnya.
Di sisi lain, ISM Services PMI Amerika Serikat justru mencatat penguatan. Indeks aktivitas sektor jasa AS pada Desember 2025 berada di level 54,4, naik dari 52,6 pada November dan melampaui ekspektasi pasar. Ini menjadi laju ekspansi terkuat sejak Oktober 2024.
Pergerakan Sektoral IHSG
Secara sektoral, mayoritas sektor mencatatkan penguatan. Sektor non-cyclical consumer memimpin penguatan dengan kenaikan sekitar 1,49 persen, diikuti sektor perindustrian yang naik mendekati 1 persen.
Sektor energi juga menjadi penopang utama IHSG dengan kenaikan 1,37–1,40 persen.
Sementara itu, sektor bahan baku menjadi satu-satunya sektor yang terkoreksi cukup dalam di kisaran 1,25 persen.
Sektor teknologi juga tercatat melemah sekitar 0,36 persen, sedangkan sektor transportasi dan kesehatan masih mampu menguat tipis.
Rupiah Melemah di Tengah Euforia IHSG
Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah justru melanjutkan tren pelemahan.
Rupiah tercatat melemah terhadap dolar AS dan berada di level Rp 16.790 per USD. Ini menjadi pelemahan rupiah selama empat hari berturut-turut sejak awal Januari 2026.
Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga melemah terhadap mata uang utama lain seperti dolar Singapura, yen Jepang, dan euro.
Kondisi ini menunjukkan bahwa euforia di pasar saham belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan rupiah.***
Editor : Vidya Sajar Fitri