Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asing Lepas Saham Konglomerat Bakrie hingga Salim, Ini 5 Fakta Panas Aksi Investor Global yang Mengguncang IHSG

Natasha Eka Safrina • Selasa, 13 Januari 2026 | 17:40 WIB

Asing lepas saham konglomerat Bakrie hingga Salim. Simak 5 fakta panas pergerakan investor global yang mengguncang pasar saham Indonesia.
Asing lepas saham konglomerat Bakrie hingga Salim. Simak 5 fakta panas pergerakan investor global yang mengguncang pasar saham Indonesia.

JAKARTA - Aksi asing lepas saham konglomerat kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar modal nasional. Dalam sepekan terakhir, investor global terpantau agresif melepas saham-saham milik taipan dalam negeri, meski di saat bersamaan tetap memborong saham perbankan besar dan komoditas unggulan. Fenomena ini mencerminkan dinamika pasar saham Indonesia yang kian selektif di tengah tekanan global dan ketidakpastian ekonomi dunia.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirangkum IDX Channel menunjukkan, asing lepas saham konglomerat terutama terjadi pada emiten-emiten Grup Bakrie dan Grup Salim. Menariknya, meskipun tekanan jual cukup besar, kinerja harga sejumlah saham justru masih mampu bertahan, bahkan mencetak level tertinggi baru.

Aksi Jual Asing Fokus Saham Bakrie dan Salim

Dalam daftar saham yang paling banyak dilepas investor asing, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi yang teratas. Saham tambang batu bara milik Grup Bakrie ini mencatatkan net foreign sell mencapai sekitar Rp1,59 triliun hanya dalam sepekan. Tekanan jual juga terjadi pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dengan nilai sekitar Rp413,93 miliar.

Baca Juga: Transfer Terpanas BRI Super League Putaran Kedua 2025–2026: Semen Padang Incar Striker Brasil, Persebaya Bidik Winger Kanada hingga Persija Lirik pmn

Tak berhenti di situ, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga ikut dilego asing dengan nilai mencapai Rp106,85 miliar. Ketiganya menjadi simbol kuat bagaimana asing lepas saham konglomerat yang selama ini dikenal sebagai penguasa sektor sumber daya alam.

Meski demikian, pasar justru mencatat fakta menarik. Saham BUMI, misalnya, tetap mampu menguat ke level Rp462 per saham, sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak 2017. Kondisi ini mengindikasikan masih kuatnya minat investor domestik yang menyerap tekanan jual asing.

Asing Berbalik Borong Saham Bank dan Tambang

Di sisi lain, aksi jual tersebut berbanding terbalik dengan langkah investor asing di sektor lain. Dalam periode yang sama, asing mencatatkan net foreign buy sebesar Rp1,6 triliun di pasar reguler. Aliran dana ini terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan komoditas.

Baca Juga: Proliga 2026 Resmi Dibuka di Pontianak, Gubernur Kalbar Ajak Warga Ramaikan dan Dongkrak Ekonomi Daerah

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi incaran utama dengan nilai pembelian bersih asing mencapai Rp644,44 miliar. Saham BBRI pun naik 1,1 persen ke level Rp3.680 per saham. Fenomena ini menunjukkan strategi rotasi portofolio asing, bukan sekadar keluar dari pasar Indonesia.

Ekspansi Emiten ke Luar Negeri

Selain pergerakan dana asing, pasar juga menyoroti aksi korporasi emiten domestik. PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) mengumumkan rencana integrasi aset pertambangan milik induk usahanya di Mongolia. Langkah ini akan ditempuh melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue.

Aset yang akan diintegrasikan berasal dari Poh Golden Resources Pte Ltd (PGR), anak usaha Poh Group asal Singapura. Proyek pertambangan tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi lebih dari 20 juta ton per tahun dengan nilai investasi melampaui 100 juta dolar AS.

Baca Juga: Jadwal Proliga 2026 Pekan Kedua Lengkap: Klasemen Terbaru, Daftar Top Skor, dan Laga Panas di Medan

Harga CPO Menguat Jelang Imlek dan Ramadan

Dari sektor komoditas, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) tercatat menguat dalam sepekan. Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia naik 1,2 persen ke level 4.038 ringgit per ton. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya permintaan menjelang Imlek dan Ramadan serta ekspektasi kebijakan ekspor Indonesia.

Analis memperkirakan rencana kenaikan pungutan ekspor sawit untuk mendukung program biodiesel berpotensi menekan pasokan global, sehingga menopang harga CPO ke depan.

Emas Jadi Safe Haven Favorit Investor

Ketidakpastian global juga mendorong investor berburu aset aman. Harga emas dunia tercatat menguat 4,1 persen dalam sepekan terakhir, seiring melemahnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan meningkatnya tensi geopolitik.

Baca Juga: Transfer Terpanas BRI Super League Putaran Kedua 2025–2026: Semen Padang Lepas Steward, Arema Incar Gabriel Silva, Persib Bidik Bek Timnas

Harga emas spot bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi di level 4.549,71 dolar AS per troy ons pada akhir Desember 2025. Kondisi ini menegaskan emas masih menjadi instrumen lindung nilai favorit di tengah gejolak pasar.

Dengan kombinasi asing lepas saham konglomerat, aksi beli selektif, ekspansi emiten, serta lonjakan harga komoditas, pasar saham Indonesia diperkirakan tetap dinamis sepanjang awal 2026. Investor pun diimbau mencermati fundamental dan sentimen global sebelum mengambil keputusan investasi.

Editor : Natasha Eka Safrina
#saham #ihsg #indeks saham Indonesia #BaKri #saham hari ini #IHSG 2026