Kekhawatiran ini mencuat usai MSCI memberikan peringatan keras terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar domestik. Jika tidak segera dibenahi, Indonesia berisiko turun dari kategori emerging market menjadi frontier market.
Founder And Trade, Elme, dalam siaran langsungnya di YouTube, menjelaskan bahwa gejolak pasar saat ini tidak bisa dilepaskan dari isu MSCI. Menurutnya, meski peluang Indonesia benar-benar turun kasta ke frontier market relatif kecil, risiko tersebut tetap nyata dan tidak boleh diabaikan investor.
“IHSG terancam turun kasta MSCI itu bukan isapan jempol. Walaupun peluangnya mungkin tinggal 20–30 persen, tetap harus dihitung sebagai risiko,” ujar Elme.
Tekanan IHSG dan Respons Regulator
Elme menjelaskan, gejolak pasar mulai terasa sejak pengumuman MSCI pada akhir Januari. Saat itu, minimnya respons cepat dari otoritas membuat pasar bereaksi negatif.
Namun situasi mulai berubah setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan pemerintah menggelar rapat intensif, termasuk di akhir pekan.
Hasilnya, IHSG sempat menunjukkan pergerakan hijau pada pembukaan perdagangan. Meski demikian, tekanan kembali terjadi pada sesi siang hingga penutupan.
Hal ini menunjukkan sentimen pasar masih rapuh dan cenderung wait and see.
“IHSG memang sempat hijau, tapi volumenya kecil. Artinya, minat beli investor besar masih tertahan,” jelasnya.
Baca Juga: Gasak Uang dan Perhiasan Kerabat Sendiri, Pria Asal Bandung Tulungagung Dibekuk Polsek Ngunut
Risiko Jika Turun ke Frontier Market
Dalam skenario terburuk, jika IHSG terancam turun kasta MSCI dan benar-benar masuk frontier market, dampaknya bisa signifikan. Saat ini, porsi kepemilikan investor asing di pasar saham Indonesia diperkirakan sekitar 43 persen atau setara Rp7.000 triliun.
Jika 20–30 persen dana asing keluar, potensi arus keluar dana bisa mencapai Rp900 triliun. Kondisi ini berisiko menekan nilai tukar rupiah dan menimbulkan efek berantai ke sektor keuangan, termasuk perbankan.
“Ini worst scenario, dan kemungkinannya kecil. Tapi tetap harus dipahami supaya investor tidak gegabah,” kata Elme.
Peluang Bertahan di Emerging Market
Meski demikian, Elme menilai peluang Indonesia tetap bertahan di emerging market masih lebih besar. Keseriusan pemerintah dan regulator dalam merespons tuntutan MSCI menjadi sinyal positif bagi pasar.
Salah satu fokus utama MSCI adalah peningkatan free float saham minimum dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
Proses penyesuaian ini berpotensi memicu aksi korporasi seperti right issue atau divestasi, yang dalam jangka pendek dapat menekan harga saham.
“Selama proses beres-beres ini, pasar bisa masuk fase bearish dari Februari sampai Mei,” ungkapnya.
Saham Big Banks Masih Relatif Tahan
Di tengah tekanan pasar, saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI dinilai masih relatif defensif.
Namun, Elme mengingatkan bahwa kenaikan harga saham-saham tersebut belum didukung volume transaksi yang kuat.
Untuk BBCA, misalnya, harga telah menembus level support penting, sehingga masih berpeluang terkoreksi lebih dalam. Sementara BBRI dan BMRI dinilai belum mengalami breakdown, namun tetap disarankan wait and see.
“Kalau mau masuk, jangan all in. Money management itu penyelamat,” tegasnya.
Saham Free Float Kecil dan Konglomerasi Tertekan
Tekanan terbesar justru terjadi pada saham-saham dengan free float kecil, khususnya dari grup konglomerasi. Sejumlah saham tercatat mengalami penurunan tajam bahkan menyentuh auto reject bawah (ARB).
Menurut Elme, saham-saham ini berpotensi terus melemah seiring penyesuaian regulasi MSCI dan menurunnya kepercayaan investor asing.
“Saham second liner dan third liner bakal paling menderita. Gorengan harus dihindari,” ujarnya.
Strategi Investor di Tengah Volatilitas
Menghadapi kondisi pasar yang bergejolak, Elme menyarankan investor fokus pada saham berfundamental kuat dan menghindari spekulasi berlebihan.
Technical rebound masih mungkin terjadi dalam jangka pendek, namun belum menjadi sinyal aman untuk agresif membeli.
“Kalau mau nyicil saham fundamental, silakan. Tapi dengan nominal yang bikin tetap waras,” tutupnya.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo