Kondisi ini terjadi meski pemerintah dan otoritas pasar modal sebelumnya menyampaikan optimisme bahwa pasar saham Indonesia akan kembali menguat.
Berdasarkan pantauan di Bursa Efek Indonesia (BEI), saat IHSG dibuka melemah, nilai transaksi awal telah mencapai sekitar Rp1,2 triliun.
Tekanan jual masih terlihat di sejumlah saham berkapitalisasi besar, seiring kehati-hatian investor merespons dinamika global dan hasil evaluasi lembaga internasional terhadap pasar modal Indonesia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa sebelumnya menyampaikan keyakinannya bahwa IHSG akan kembali bergerak naik.
Menurutnya, respons cepat pemerintah, Bursa Efek Indonesia, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ditambah fundamental ekonomi nasional yang dinilai masih solid, menjadi modal penting bagi pemulihan pasar saham.
Baca Juga: Gasak Uang dan Perhiasan Kerabat Sendiri, Pria Asal Bandung Tulungagung Dibekuk Polsek Ngunut
Dampak Evaluasi MSCI Masih Membayangi
Meski optimisme disuarakan, pasar masih dibayangi sentimen negatif dari hasil evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam evaluasinya, MSCI menilai transparansi Bursa Indonesia belum sepenuhnya memenuhi standar yang diharapkan.
Penilaian ini memberikan tekanan signifikan terhadap pergerakan indeks dalam beberapa waktu terakhir.
IHSG sempat mengalami penurunan tajam pada 28 Januari 2026. Saat itu, indeks ditutup melemah hingga 7,35 persen, setelah sebelumnya sempat menyentuh level psikologis 9.000 dan kembali turun ke kisaran 8.000.
Tekanan tersebut menjadi salah satu koreksi terdalam dalam sepekan terakhir.
OJK dan BEI Percepat Komunikasi dengan MSCI
Pemerintah bersama OJK dan Self Regulatory Organization (SRO) bergerak cepat untuk merespons evaluasi tersebut.
Pejabat sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederika Widyasari Dewi, menyatakan bahwa OJK dan SRO akan melakukan komunikasi intensif dengan MSCI secara virtual pada Senin sore.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses klarifikasi serta evaluasi lanjutan, sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar modal.
Jika perbaikan tidak segera dilakukan, Indonesia berpotensi mengalami penurunan status dari emerging market menjadi frontier market dalam klasifikasi MSCI.
Danantara Nilai Pasar Masih Menarik
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Syahrir, menilai pelemahan pasar saham tidak mencerminkan kondisi fundamental perekonomian nasional.
Ia menyebut ekonomi Indonesia masih cukup solid dan tidak ada alasan bagi IHSG untuk terpuruk lebih dalam.
Menurut Pandu, masih banyak emiten yang memiliki valuasi menarik dan fundamental kuat. Karena itu, Danantara berencana masuk dan melakukan penetrasi dengan membeli sejumlah saham di tengah koreksi pasar.
Langkah ini mencerminkan keyakinan investor institusi terhadap prospek jangka menengah dan panjang pasar saham Indonesia.
Pergantian Pejabat Jadi Sorotan Investor
Tekanan terhadap IHSG juga tidak lepas dari dinamika internal otoritas pasar modal.
Dalam sepekan terakhir, terjadi pergantian sejumlah pejabat penting, termasuk Direktur Utama BEI Iman Rahman serta beberapa pejabat OJK, seperti Ketua OJK Mahendra Siregar dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi.
Pergantian ini disebut sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh atas terpuruknya IHSG dalam waktu singkat. Pemerintah berharap restrukturisasi tersebut mampu memperkuat kepercayaan investor dan mempercepat reformasi pasar modal.
Pergerakan Saham dan Indeks Sektoral
Hingga pukul 09.06 WIB, IHSG masih bergerak di zona merah. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham berlikuiditas tinggi tercatat melemah sekitar 1,73 persen ke level 819. Nilai transaksi meningkat menjadi sekitar Rp3,3 triliun.
Indeks sektoral juga mayoritas mengalami koreksi, termasuk IDX BUMN20 yang mencerminkan pergerakan saham-saham BUMN.
Meski demikian, pasar sempat mencatat rebound pada penutupan perdagangan akhir Januari, dengan penguatan sekitar 1,18 persen.
Analis pasar modal memprediksi pergerakan IHSG hari ini cenderung bergerak mixed, dengan level support di kisaran 8.195 dan resistance di sekitar 8.560.
Investor kini menanti hasil komunikasi OJK dan MSCI, termasuk rencana kenaikan batas minimal free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen sebagai bagian dari reformasi pasar.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo