Setelah sempat terbang tinggi pada awal Januari 2026, saham emiten pertambangan tersebut mengalami koreksi signifikan dan membuat banyak investor ritel terjebak di harga atas.
Namun, di balik kejatuhan harga saham BUMI, muncul narasi lain yang menyebut penurunan ini bukan sekadar panic selling, melainkan bagian dari skema besar investor institusi dan kepentingan global, termasuk terkait indeks MSCI.
Analis pasar modal Firman, dalam video YouTube terbarunya, menegaskan bahwa anjloknya saham BUMI tidak bisa dilihat secara sederhana.
Ia menyebut ada agenda besar di balik koreksi tersebut, terutama karena tingginya minat investor ritel terhadap saham BUMI dalam beberapa bulan terakhir.
Saham BUMI dan Isu MSCI
Menurut Firman, saham BUMI sempat menjadi salah satu kandidat kuat untuk masuk indeks MSCI, menyusul lonjakan harga dan transaksi yang sangat tinggi.
Namun, tingginya partisipasi ritel dan valuasi yang dinilai tidak wajar justru memicu perhatian lembaga pemeringkat global.
“Ketika harga sudah terlalu liar dan free float dianggap bermasalah, MSCI biasanya meminta pembenahan. Di sinilah tekanan mulai terjadi,” ujarnya.
Ia menilai, isu penurunan peringkat Indonesia oleh MSCI dan pembekuan sementara beberapa saham bukan semata karena fundamental, melainkan untuk meredam praktik goreng saham yang dianggap berlebihan.
Asing Disebut Borong Saat Harga Turun
Di tengah kejatuhan harga, Firman mengungkap data transaksi yang menunjukkan investor asing justru melakukan akumulasi besar-besaran di saham BUMI.
Berdasarkan data broker, net buy asing di saham ini disebut mencapai sekitar Rp1,4 triliun meski harga turun hingga 5 persen.
“Investor institusi tidak suka beli di harga mahal. Mereka tunggu panik, lalu masuk,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan investor agar tidak terkecoh oleh data net sell atau net buy harian, karena institusi besar bisa menggunakan beberapa akun sekuritas sekaligus untuk mengatur distribusi dan akumulasi saham.
Tekanan Terbesar Dirasakan Investor Ritel
Firman menilai kondisi ini paling berdampak pada investor ritel pemula yang minim literasi dan hanya mengandalkan opini media sosial. Banyak investor disebut masuk saham BUMI karena FOMO tanpa perencanaan manajemen risiko yang matang.
“Ketika harga turun, yang paling panik ya ritel. Sementara big money sudah siap sejak awal,” katanya.
Ia menambahkan, fenomena serupa tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara lain seperti Korea Selatan, di mana lembaga indeks global memiliki pengaruh besar terhadap arah pasar.
Fundamental Saham BUMI Masih Kuat
Meski harga bergejolak, Firman menegaskan bahwa secara fundamental, saham BUMI masih mencatat kinerja positif.
Emiten ini telah membukukan laba bersih sekitar Rp5,5 triliun dan menunjukkan perbaikan kinerja keuangan yang stabil.
Selain batu bara, BUMI juga memiliki eksposur ke sektor tambang lain melalui anak usaha, yang dinilai menjadi daya tarik jangka panjang bagi investor institusi.
“Kalau saham ini tidak bagus, tidak mungkin investor besar mau masuk,” ujarnya.
Strategi Investor di Tengah Gejolak
Firman menilai kondisi saat ini justru menjadi momentum “time to buy” bagi investor yang memiliki dana dingin dan orientasi jangka panjang.
Namun, ia mengingatkan bahwa strategi harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
Bagi trader jangka pendek, ia menyarankan disiplin cut loss. Sementara untuk investor jangka panjang, pembelian bertahap dinilai lebih aman.
“Ketika pasar panik, justru di situlah peluang muncul,” pungkasnya.
Ia memproyeksikan saham BUMI berpotensi kembali menguat setelah proses pembenahan pasar selesai dan suplai saham terkonsolidasi.
Namun, ia menekankan seluruh keputusan investasi tetap berada di tangan masing-masing investor.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo